Nanggroe Aceh Darussalam menjadi provinsi berikut tempat deklarasi penolakan Muslim Aswaja pada sekte Syi'ah

KH Athian Ali berceramah dalam deklarasi Annas di Banda Aceh
Ahad pagi adalah awal hari yang tak seperti biasanya di masjid al-Abror Lamdingin, Banda Aceh.

Shalat Shubuh berjama'ah dilaksanakan lebih ramai. Pagi itu memang lebih banyak kaum Muslimin dari berbagai tempat yang menyambagi masjid.

Setelahnya, KH Athian Ali yang datang dari kota Bandung naik mimbar memberikan ceramah Shubuh.

Kyai Athian berpesan, sudah saatnya umat Islam bangkit bersatu untuk sama-sama beraqidah yang benar, yaitu Ahlusunnah wal jama'ah (Sunni/Aswaja).

Lebih dari 1000 hadirin umat Islam dari berbagai elemen Ahlusunnah memang berkumpul hari itu demi mengikuti 1 hal penting.

Kyai Athian adalah ketua Aliansi Nasional Anti Syi'ah (Annas), sebuah gerakan warga muslim Aswaja Indonesia yang menolak perkembangan ajaran Syi'ah, sebuah sekte keagamaan yang meyakini adanya "imam maksum" dan mengkafirkan para Sahabat Nabi.

Deklarasi Annas cabang Banda Aceh dilangsungkan pada hari Ahad (12/2).

Melalui deklarasi ini, elemen Aswaja di Banda Aceh khususnya, sepakat menolak Syi'ah di bumi Serambi Mekkah.

Drs. H. Tgk Misnan. MA terpilih menjadi pemimpin Annas cabang Banda Aceh.

Aceh tolak Syi'ah
Sebelumnya pada deklarasi Annas di Bandung tahun 2014, Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh, menegaskan bahwa Aceh Darussalam adalah bumi Ahlusunnah.

“Sesuai dengan Perda akidah umat, maka akidah yang bisa berjalan di Aceh adalah akidah Ahlusunnah wal jama’ah. Syiah tidak ada tempat di Aceh", kata Prof Dr Tengku Muslim Ibrahim, Ketua Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh, Ahad (20/4/2014).

Fatwa ulama Aceh juga menyebutkan, Syi'ah merupakan aliran di luar Islam.

“Jadi secara organisasi Syi'ah dilarang di Aceh”, tegas Tengku Muslim.

Tengku berharap daerah-daerah lain juga mewaspadai bahaya perkembangan Syi'ah.

Seperti diketahui, ajaran Syi'ah yang berkembang di Indonesia berbeda dengan Islam yang diketahui.

Syi'ah imamiyah tidak mempunyai rukun iman dan Islam, karena yang diyakini adalah "Ushuluddin".

Satu hal terpenting dalam ushuluddin itu adalah imamah, sebuah keyakinan kepemimpinan yang diklaim sudah ditentukan oleh langit.

Menurut Syi'ah, penolakan pada imamah, atau yang berwujud imam maksum, sama dengan kafir dari pokok agama Syi'ah.

Saat ini, imam maksum Syi'ah imamiyah adalah sosok yang disebut Muhammad bin Hasan al-Askary atau Mahdi yang hilang.

Konon, ia telah hilang sejak 11 abad lalu dan akan muncul jelang kiamat dan membawa Syi'ah berjaya di muka bumi.

Tidak ada satupun bukti fisik sejarah tentang kelahiran dan keberadaan sosok itu, Syi'ah meyakini keberadaannya dari orang yang mengaku pernah bertemu sebelum diceritakan menghilang untuk kedua kalinya hingga saat ini. (Risalah/Hidayatullah)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.