Warga Palestina di Israel berkumpul di luar Knesset (parlemen Israel), Yerusalem Barat, pada Senin (23/1), memprotes pembongkaran rumah-rumah Palestina

Kerumunan warga palestina dalam aksi demo di depan Knesset, parlemen Israel di Yerusalem Barat. (AlJazeera)

Warga Palestina di Israel berkumpul di luar Knesset (parlemen Israel), Yerusalem Barat, pada Senin (23/1), memprotes pembongkaran rumah-rumah Palestina.

Demo itu terjadi setelah pemerintah Israel menyetujui izin bangunan bagi 566 rumah pemukim Yahudi di Yerusalem Timur. Langkah ini mendapat kecaman dari para pemimpin Palestina.

Permukiman Yahudi dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional.

Menurut koresponden Al-Jazeera Imran Khan, demonstrasi kali ini mencerminkan perubahan taktik warga Palestina.

"Daripada melakukan pemogokan di daerahnya dalam melawan penghancuran, mereka datang ke Knesset, jantung kekuasaan Israel, memastikan parlemen dan pemerintah mendengar suara mereka", menurut koresponden Al-Jazeera.

"Mereka berkata dirinya sebagai warga Israel dan berhak atas hak yang sama seperti warga lainnya, juga muak diperlakukan menjadi warga kelas dua", lanjutnya.

Rencana pembangunan disetujui pada Minggu (22/1) setelah pelantikan Presiden AS Donald Trump.

Para pejabat Israel mengatakan, izin itu hanya ditunda sampai akhir pemerintahan Barack Obama yang bersikap kritis menolak kegiatan pembangunan pemukiman Israel.

"Aturan permainan telah berubah dengan kedatangan Donald Trump sebagai presiden", ujar Meir turgeman, wakil walikota Yerusalem.

"Tangan kami tidak lagi terikat seperti saat pemerintahan Barack Obama. Sekarang kita akhirnya dapat membangun", lanjutnya.

Izin yang baru dikeluarkan adalah untuk membangun permukiman Pisgat Zeev, Ramot dan Ramat Shlomo.

Menurut Turgeman, rencana 11.000 rumah lainnya di Yerusalem Timur juga sedang dalam proses. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.