Pemerintah Myanmar menolak permintaan akses pelapor khusus HAM PBB, Yanghee Lee, untuk masuk ke beberapa daerah di negara bagian Rakhine

Utusan khusus PBB untuk HAM Yanghee Lee (AlJazeera)
Pemerintah Myanmar menolak permintaan akses pelapor khusus HAM PBB, Yanghee Lee, untuk masuk ke beberapa daerah di negara bagian Rakhine.

Myanmar menggunakan "masalah keamanan" sebagai alasan.

Menurut kantor berita Al-Jazeera, Lee hanya diizinkan berbicara dengan "orang-orang yang telah disetujui pemerintah" ketika mengunjungi desa-desa Muslim Rohingya.

Hal ini dinilai akan menghambat penyelidikan. Pasalnya, kurangnya akses membuat pekerjaan utusan PBB lebih sulit.

Dalam kunjungan 12 harinya, Lee hanya menghabiskan 3 hari di Rakhine. Daerah bagi 1,2 juta muslim Rohingya yang selama beberapa dekade telah mengalami kemiskinan, tekanan, penyangkalan hak kewarganegraan dan kebebasan.

Di kesempatannya, Lee juga mengunjungi pos perbatasan yang menjadi target penyerangan Oktober lalu.

Insiden itu menewaskan 9 polisi dan dicurigai dilakukan oleh kelompok militan Muslim. Akibatnya, perburuan tersangka menjadi pemicu kekerasan desa-desa Rohingya di Rakhine.

Jum'at lalu, Lee mengunjungi pemimpin komunitas Muslim saat kunjungannya ke Sittwe.

Namun, Partai Nasional Arakan menolak menerima kedatangan Lee.

"Kami tidak (mau) bertemu dengannya karena kami tidak percaya dia dan organisasinya (PBB) ingin menyelasaikan isu ini secara adil", ujar Sekertaris umum Ba Swei.

"Isu ini tidak akan terselesaikan selama mereka masih mengakui para penduduk Bangladesh sebagai salah satu etnik di negara ini", tambahnya.

Kaum nasionalis Myanmar memang menganggap Rohingya merupakan kaum imigran Bangladesh. Sehingga memprotes lembaga internasional seperti PBB yang meminta Rohingya diakui.

Lee melanjutkan kunjungannya ke zona konfik pada Minggu (15/1). Perwakilan PBB ini juga akan memeriksa laporan pengurangan bantuan kemanusiaan sejak adanya operasi militer 3 bulan lalu.

"PBB mengatakan, mereka khawatir dengan meningkatnya angka kekurangan gizi Rohingya di daerah sekitar ini. Kualitas makanan diragukan di sini", menurut reporter Looi.

Menurut PBB sebanyak 65.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh menghindari aksi militer, termasuk laporan pembakaran rumah, pembunuhan, dan perkosaan warga sipil. Sebanyak 150.000 orang bergantung pada bantuan.

Di Bangladesh, pengungsi Rohingya juga dikabarkan mendapat penyiksaan.

"Kami melewati orang-orang yang telah ditembak. Kami melewati anak-anak. Setiap orang di sini, mereka mencderitakan desa-desa yang dibakar dan kerabat yang dibunuh", ujar Looi. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.