Presiden Gambia yang deklarasikan 'Republik Islam' dinyatakan kalah pemilu akhir tahun lalu

Pemimpin Gambia yang deklarasikan 'Republik Islam'
Pasukan keamanan Gambia menutup dua stasiun radio swasta yang bermarkas di dekat ibukota, Banjul.

Teranga FM dan Hilltop Radio ditutup sejak hari Minggu, kata Emil touray, kepala dewan pers Gambia.

Kantor radio ditutup oleh petugas polisi dan 4 anggota Badan Intelijen Nasional, ia melanjutkan.

Teranga telah ditutup empat kali dalam beberapa tahun terakhir.

Seorang juru bicara pemerintah mengatakan belum bisa mengkonfirmasi kebenaran penutupan.

Belum jelas alasan dua stasiun itu menjadi sasaran penutupan Jammeh, yang sering dikecam oleh Barat dengan pemerintahan otoriter dan "masalah HAM".

Direktur radio itu, Alagie Ceesay, pernah ditangkap pada bulan Juli 2015, dan didakwa melakukan penghasutan.

Ceesay dua kali dirawat di rumah sakit pada awal 2016 saat masih dalam tahanan, menurut Amnesty International. Sebelum kemudian melarikan diri ke Senegal.

"Ini adalah tamparan bagi wajah proses demokrasi negara ini. Orang-orang tidak memiliki akses informasi di masa kritis sejarah kami", kata touray, dikutip Reuters, Senin (2/1).

Putusan penutupan ini terjadi di tengah krisis politik yang meningkat akibat penolakan Presiden Jammeh atas hasil pemilu yang menyatakan kekalahannya.

Jammeh awalnya mengakui kekalahan dari rivalnya, Adama Barrow.

Tapi seminggu kemudian, ia menyatakan ada kecurangan dan menyerukan pemilu baru. Sontak saja segera mengundang kecaman dari oposisi lokal maupun pihak asing.

Penolakan Jammeh, yang merebut kekuasaan dalam kudeta 1994, dari melepaskan posisinyanya juga membuka ancaman intervensi militer dari ECOWAS (perhimpunan Afrika barat), yang menyiapkan militer.

Jammeh menyebut itu sebagai bentuk "deklarasi perang".

Kemenangan pemilu Adama Barrow dipandang sebagai hasil mengejutkan 'demokrasi di Gambia', negara yang merdeka dari Inggris sejak tahun 1965 tetapi hanya memiliki dua presiden.

Kegembiraan terlihat di jalan-jalan ibukota Banjul pasca kemenangan Barrow, meski segera menciut akibat penolakan presiden Jammeh.

Yahya Jammeh pada Desember 2015 mendeklarasikan Gambia sebagai 'Republik Islam' dan ia ingin menggusur sekulerisme warisan penjajah.

Sementa Barrow, dilaporkan akan mencabut deklarasi itu. (Reuters/Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.