Pasca tercapai gencatan senjata, beberapa tempat terus digempur Assad dan militan Syi'ah

Menteri LN Turki Mevlut Cavusoglu
Turki mendesak rezim Suriah dan milisi sektunya menghentikan serangan yang dapat melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Aksi ofensif ini dinilai akan mengancam rencana perundingan damai yang diprakarsai Ankara dan Moskow.

"Jika tidak menghentikan pelanggaran yang terus terjadi, pembicaraan (damai) di Astana, Kazakhstan, bisa gagal. Usai gencatan senjata berlaku, kami masih melihat pelanggaran", ujar Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, Rabu (4/1).

Cavusoglu juga menyeru Iran dan Rusia, sekutu utama Assad, agar memberikan tekanan kepada milisi sekutunya sehingga mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

Pasalnya, sejumlah milisi Syi'ah asing pro-Assad, seperti Hezbollah kerap melakukan pelanggaran.

"Kami melihat ada yang melakukan pelanggaran seperti Hezbollah, kelompok lainnnya, dan juga rezim (Assad)", lanjutnya.

Pasca tercapai gencatan senjata, beberapa tempat terus digempur Assad dan militan Syi'ah. Wadi Barada misalnya, daerah itu merupakan sumber air di dekat Damaskus yang masih dikuasai oposisi.

Tempat itu juga penting bagi milisi Syi'ah Hezbollah, karena terletak di jalur suplai menuju Lebanon.

Rencananya, jika gencatan senjata berjalan konsisten, pembicaraan damai di Astana dijadwalkan pada tanggal 23 Januari.

Namun, kesepakatan ini terancam batal karena kelompok perlawanan menyebut rezim Assad terus menyerang dan coba merebut wilayah baru.

"Kesepekatan gencatan senjata akan batal jika rezim (Assad) terus melakukan pelanggaran dan menggempur wilayah-wilayah di bawah kendali kelompok revolusioner (pejuang oposisi)", ujar salah satu komandan kelompok. (CNN Indonesia/AFP)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.