Tito mengatakan, "Bendera Merah Putih tidak boleh diperlakukan tidak baik, diantaranya membuat tulisan di bendera dan lain-lain"

Sebuah bendera berwarna merah-putih dengan lafadz Tauhid
Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian memerintahkan jajarannya untuk menyelidiki aksi unjuk rasa Front Pembela Islam (FPI) di Mabes Polri, Senin (16/1).

Alasannya, dalam aksi itu, terdapat sebuah motif bendera dengan warna merah-putih yang dibubuhi kalimat Tauhid dan motif pedang.

Tito mengatakan, dalam waktu dekat, pihaknya akan memanggil penanggung jawab dan koordinator lapangannya.

"Tentu sekarang kami melakukan penyelidikan. Siapa yang membuat, siapa yang mengusung, penanggung jawab, korlapnya, akan kami panggil. Siapa ini?", kata Tito di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/1).

Tito mengatakan, ada pasal yang mengatur bagaimana memperlakukan lambang negara, termasuk bendera. Hukuman memperlakukan bendera nasional dengan tidak layak adalah satu tahun penjara.

"Bendera Merah Putih tidak boleh diperlakukan tidak baik, diantaranya membuat tulisan di bendera dan lain-lain, itu ada UU yang mungkin di negara lain tidak dilarang, tapi di negara kita dilarang, ada hukumannya satu tahun", kata Tito.

Tito berharap siapa pun yang bertanggung jawab atas bendera-bendera itu agar mengakui perbuatannya kepada polisi. Ia mendorong jajarannya menyelidiki kasus ini secara maksimal.

"Kita melihat sportivitas. Jangan sampai nanti mohon maaf, akal-akalan bilang enggak tahu padahal tahu, itu namanya berbohong untuk melindungi diri sendiri", katanya.

Kontroversi definisi bendera merah-putih
Risalah menelusuri definisi bendera merah-putih Indonesia menurut UU No. 24 tahun 2009, yang menyebut:

"Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama"

Hal ini diperkuat oleh pendapat Sekretaris Militer Presiden, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, yang menyebut warna merah putih bukan selalu bendera.

Menurutnya, sesuai UU, yang dimaksud dengan bendera RI adalah kain berukuran 2 x 3 berwarna merah dan putih dan dikibarkan di tiang bendera.

"Di luar dari ketentuan tersebut adalah bukan bendera RI", ujar Hadi.

Presiden ke-6 RI di atas kain mirip merah-putih (Kompas)
Presiden ke-7 RI di atas kain mirip merah-putih (Kompas)
Namun pendapat itu bisa terbentur ayat 4 pasal 4 UU No. 24 tahun 2009, karena ayat itu memperluas definisi bendera negara.

Dimana dijelaskan bahwa bendera merah putih bisa dibuat dari bahan apa saja (selain kain), dan ukuran apa saja (selain rasio 2x3) untuk keperluan selain yang diatur UU.

Risalah tidak bisa memverifikasi apakah motif kain merah-putih yang bertuliskan kalimat Tauhid itu rasionya termasuk kategori bendera negara yang dibubuhi tulisan. (Kompas/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.