Presiden Gambia masih duduk di kursi kekuasaan setelah Majelis Nasional mengesahkan sebuah resolusi

Presiden Gambia, Yahya Jammeh
Warga Gambia dan wisatawan terburu-buru naik bus sambil mengepak semua kopernya ke dalam truk dan kano. Mereka berusaha melarikan diri dari ibukota Gambia pada Rabu (18/1).

'Larinya' sejumlah warga lokal serta wisatawan ini terkait 'ngototnya' Presiden Yahya Jammeh mempertahankan kekuasaannya di malam yang seharusnya jadi malam pengambilan sumpah bagi saingannya Adama Barrow.

Jammeh, seorang mantan tentara yang kini jadi presiden pernah bersumpah untuk memerintah selama satu miliar tahun.

Ia menolak untuk mundur meskipun mendapat kecaman dari pemimpin tetangganya, bahkan ancaman invasi.

Majelis Nasional Gambia mengesahkan sebuah resolusi yang memungkinkan Jammeh tetap berada di kantornya selama tiga bulan mendatang, terhitung dari Rabu (18/1).

Beberapa sekutu Jammeh sudah meninggalkannya. 8 menteri berbondong-bondong mengundurkan diri, empat diantaranya berhenti dalam kurun waktu 48 jam terakhir.

Belum diketahui jumlah pasukan yang loyal membelanya setelah mandat berakhir.

Namun tak banyak warga Gambia yang menunggu untuk mencari tahu soal ini.

Di stasiun bus Bundung Garage yang berpasir yang berada di ibukota Gambia, Banjul, para ibu membawa bayinya yang diikat ke punggung. Mereka antre untuk mengambil barang-barangnya dari dalam bus dan berjalan menuju ke perbatasan selatan dengan Senegal.

Laki-laki dan anak-anak duduk di atas tumpukan koper. Di sebelahnya ada gulungan kasur busa, karung beras, dan botol minyak goreng.

"Tiga hari terakhir kami sudah berada di sini", kata manager stasiun bus Sonore Momodou Choi.

"Biasanya kami mengeluarkan tiga minibus per hari. Tapi minggu ini ada 25 bus per hari, tidak termasuk bus besar", ujarnya.

Tidak semua orang melarikan diri ke Senegal. Lainnya melarikan diri dengan pirogues ke seberang sungai yang membagi negara terkecil di Afrika ini.

Pengungsi tiba di Senegal
Di Zinguinchor, wilayah Senegal dekat Gambia, seorang saksi mata Reuters melihat ada 12 anak yang berada di bagian belakang van yang penuh sesak.

Van yang penuh dengan barang dalam kantong plastik ini berada di pantai kira-kira beberapa ratus meter dari perbatasan Gambia.

"Kami takut dengan apa yang dilihat dalam berita", kata Moussa Camara, anak berusia 14 tahun yang berasal dari Kafotang di Gambia. Ia menyebrang bersama 25 anggota keluarga lainnya.

Tingkat waspada warga lokal ini ternyata juga berpengaruh pada wisatawan. Setelah kantor luar negeri Inggris menyatakan tingkat siaga wisata, operator wisata Inggris Thomas Cook mulai mengevakuasi hampir 1000 wisatawan pada Rabu (18/1). Wisatawan dari negara lain pun mengikuti.

"Saya akan sangat senang jika bisa tinggal, tapi operatur tur mengatakan bahwa kami semua harus pergi", kata turis Belanda Art Johnson di Banjul.

Jalan-jalan di sekitar kawasan resort Senegambia biasanya ramai dengan wisatawan. Namun kini sebagian besar kosong, beberapa turis terlihat menarik uangnya dari mesin ATM.

"Ini bencana, semua wisatawan saya pergi," kata pemandu wisata alam Abou. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.