Zilal Salhani, salah satu tawanan politik yang ditahan atas dakwaan kejahatan setelah "memberi makan pada warga pengungsi Aleppo"

Ilustrasi demo warga sipil Suriah (AlJazeera)

Puluhan ribu tahanan politik masih berada dalam penjara Suriah dengan nasib yang tak pasti.

Zilal Salhani, ia adalah salah satu tawanan politik yang ditahan atas dakwaan kejahatan, setelah "memberi makan pada warga pengungsi Aleppo".

Zilal ditahan di tahun 2012 ketika berusia 19 tahun oleh aparat rezim Assad. Masa yang seharusnya untuk berkuliah di jurusan teknik, dihabiskannya dalam pusat penahanan pemerintah.

Mahasiswi itu dituduh membantu "teroris". Meski menurut salah satu temannya, Mohammad Shbeeb, Zilal adalah warga yang cinta kedamaian.

Sebelum Zilal ditahan, pejuang oposisi FSA telah menguasai beberapa daerah di dalam dan sekitar kota Aleppo, yang segera jadi sasaran serangan udara oleh rezim sebagai balasan.

Ia memberi makanan warga yang lari akibat pertempuran sengit, juga membantu mereka agar menemukan tempat tinggal baru.

Inilah yang jadi alasan tuduhan kejahatan sang gadis Aleppo. Ditambah lagi Salhani berpartisipasi aktif dalam demonstrasi damai untuk menurunkan pemerintahan diktator Basyar al-Assad.

Menurut Shbeeb yang mendapat informasi dari tahanan lain, Salhani menolak membuka niqab saat diminta oleh penjaga penjara.

"Penjara ini memang buruk, tapi lebih buruk lagi bagi seorang wanita. Penjaga melihatnya seperti binatang melihat mangsa", ujarnya.

Shbeeb juga pernah ditahan karena ikut serta dalam demonstrasi 2011. Ia hanya ditahan selama tujuh jam, namun mengalami penyiksaan dan beberapa pukulan.

"Banyak teman kami yang masih berada di penjara. Banyak diantara mereka yang telah meninggal di sana", kisah Shbeeb.

Pembebasan tahanan seharusnya dapat menjadi kunci dalam proses transisi politik.

Sejauh ini, Palang Merah adalah satu-satunya lembaga yang pernah memiliki akses ke dalam fasilitas penahanan Assad.

Kepala Palang Merah Internasioan daerah Timur Tengah, Robert Mardini mengatakan, organisasinya telah mengunjungi beberapa penjara tahun lalu. Namun mereka menolak memberikan keterangan mengenai keadaan di dalam penjara.

Sedangkan Human Right Watch menyebutkan puluhan ribu tawanan politik masih terkurung di penjara-penjara Suriah.

Beberapa orang ditahan tanpa alasan apapun, yang lain "terbukti bersalah" lewat pembuktian pengakuan yang didapatkan melalui penyiksaan.

Keluarga-keluarga mereka menanti dalam ketidakpastian dan terus dihinggapi kesimpang siuran rumor yang beredar selama bertahun-tahun.

Noor, bekas tawanan yang pernah satu di sel dengan Salhani selama 8 bulan di penjara Adra, menceritakan kondisi penjara tidak dapat dibayangkan.

"Saya tidak bisa menjelaskan ketidakadilan yang kami hadapi di Adra", ucapnya.

Noor juga ditahan atas tuduhan "terorisme" karena menyediakan makanan untuk pengungsi Suriah dan menyebarkan pamflet agar mendukung perlawanan sipil.

"Aktivis sipil yang turun ke jalan di masa awal revolusi dianggap sebagai orang yang berbahaya oleh rezim, karena mereka tidak menggunakan senjata serta menjaga agar situasi tetap damai, sedangkan pemerintah berusaha untuk menjadikan (alasan) aksi militer", ujar Kareem Hourani, anggota grup aktivis 'Suara Tahanan'.

Noor mengisahkan, penangkapan mahasiswi seperti Salhani berefek kepada aktivis lainnya.

"Zilal (Salhani) adalah salah satu tahanan pertama dari Aleppo, (membuat) orang lain ikut bergabung aksi demo karena penangkapannya. Sehingga, mereka menggunakan Zilal sebagai contoh yang diikuti. Bagi kami, penangkapan Zilal adalah kekalahan besar. Kami kecewa. Zilal adalah perempuan yang kuat", kisah Noor.

Di tengah kondisi penjara yang memprihatinkan, kesehatan Salhani semakin menurun. Sarapan biasanya diberikan pada pukul 10 pagi. Para tahanan diberi seiris roti dengan sedikit keju atau selai.

Jatah makan selanjutnya hanya ada jam 6 sore, dengan menu nasi atau bulgur, ditambah tomat atau kentang dan seiris roti.

Noor berkisah, percakapannya dengan Salhani berfokus pada nasib mereka di penjara, juga mengenai hilangnya beberapa wanita dari blok mereka.

Padahal, obrolan "politik" dilarang dilakukan dalam penjara dengan ancaman pemukulan.

Lebih dari 65.000 warga Suriah menghilang secara misterius sejak revolusi pada 2011 silam, ungkap Amnesti Internasional.

Dalam upaya meredam penentangan dan protes, rezim menuduh pihak oposisi sebagai "teroris", meski banyak aktivis yang hanya bergerak secara pasif.

Yahya Shurbaji, yang dijuluki sebagai "lelaki bunga mawar", ditahan di penjara sejak September 2011. Aktivis Daraya lain yang ditangkap bersamanya telah meninggal di sana.

"Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka yang membalas kekerasan dengan memberi bunga dan air untuk tentara Assad. Rezim takut pada mereka karena bisa menyangkal tuduhan sebagai teroris atau pemberontakan bersenjata", kisah Yahya tentang kesabaran teman-temannya.

Kebijakan rezim Assad mengenai penjara politik sudah ada puluhan tahun. Dalam satu kasus pada 2009, blogger Tal al-Mallohi (18) ditangkap karena tulisan-tulisan di internet.

Ia ditahan tanpa tuduhan jelas selama beberapa waktu, lalu dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena diduga sebagai "mata-mata" di tahun 2011.

Hourani percaya bahwa pembebasannya dilakukan akibat tekanan internasional.

"(Masyarakat internasional) berdiri atas alasan kebenaran, melawan rezim Assad dan menuntut gencatan senjata bagi para aktivis", kata Hourani. (Olivia Alabaster/Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.