Yahya Jammeh yang mendeklarasikan Gambia sebagai Republik Islam terus ditekan untuk mundur

Presiden Gambia Yahya Jammeh (AA)

Presiden Gambia, Yahya Jammeh berjanji untuk mencoba segala cara damai dalam menyelesaikan kebuntuan politik setelah ia menolak hasil pemilu bulan lalu.

Pernyataan ini dikeluarkan pada Selasa (10/1) pada siaran TV nasional, dilansir dari Anadolu agency.

Jammeh menggunakan bahasa tubuh sama seperti saat menyampaikan pidato mengakui kekalahannya dari Adama Barrow 2 Desember lalu.

Ia meyakinkan warga Gambia bahwa niatnya adalah untuk kepentingan negara.

"Saya meyakinkan semua orang bahwa sebagai seorang Gambia, Muslim dan seorang berkeluarga, tidak ada orang asing bisa mencintai negeri ini serta memegang kepentingannya lebih dari saya sendiri dan orang Gambia lainnya", kata Jammeh.

"Jadi saya juga akan mengambil semua langkah yang sesuai konstitusi dan hati nurani saya untuk melakukan bagian saya dalam menyelesaikan kebuntuan yang menyedihkan ini", lanjutnya.

Pada 9 Desember, Jammeh menolak hasil pemilu setelah sebelumnya menyatakan kekalahan dirinya dari Barrow.

Jammeh mengatakan, proses pemilihan dinodai dengan "penyimpangan yang tidak bisa diterima".

Ia juga memerintahkan adanya pemungutan suara baru dan mengajukan petisi yang meminta pembatalan hasil.

Sidang Mahkamah Agung terhadap petisi Jammeh ditunda hingga Mei.

Pada Selasa, Hakim Agung Emmanuel Fagbele mengatakan pada pengacara Jammeh Edu Gomez, bahwa ia membutuhkan panel penuh agar dapat memasukkan hakim dari luar negeri, sebagaimana tradisi dalam hukum Gambia.

Namun hakim dari Sierra Leone dan Nigeria tidak dapat berkunjung hingga Mei atau November. (Anadolu)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.