Presiden baru Gambia, Adama Barrow, mengatakan nama resmi negaranya tidak akan lagi mengandung kata "Islam"

Presiden baru Gambia, Adama Barrow
Presiden baru Gambia, Adama Barrow, mengatakan nama resmi negaranya tidak akan lagi mengandung kata "Islam", yang pernah ditambahkan oleh presiden sebelumnya, Yahya Jammeh, sejak tahun 2015.

Menurutnya, Gambia yang berpenduduk 90 persen Muslim, dengan sisanya Kristen dan animisme, adalah sebuah Republik, bukan "Republik Islam".

Ia juga akan mereformasi badan intelijen, serta berjanji menjamin kebebasan media di negara itu.

Nama Badan Intelijen Nasional (NIA) akan diganti. Selama ini badan tersebut menjadi polisi rahasia yang ditakuti.

NIA dituduh oleh kelompok HAM atas kasus penculikan dan penyiksaan di bawah perintah mantan presiden Jammeh.

Barrow ingin "Gambia siap membangun kembali negara mereka dari nol". Termasuk menjanjikan transparansi kabinet pemerintahannya.

Barrow juga menginginkan bantuan asing dalam proses reformasi militer yang diyakini masih loyal pada presiden lama.

Saat ini, ribuan tentara asing dari Senegal dan negara tetangga berada di Gambia untuk menjaga transisi pemerintahan baru yang mereka dukung.

"Dalam militer, jika membutuhkan bantuan teknis, kami akan menghubungi negara-negara yang bersedia membantu kami", katanya.

Tidak ada batasan waktu bagi pasukan Afrika barat untuk pergi dari Gambia, Barrow menambahkan. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.