Di masa perang Afghanistan, penentang pemerintah Marxis yang dipegang "Muslim Sunni", dikenal dunia sebagai Mujahidin

Media Barat dahulu tak segan sebut kelompok perlawanan sebagai 'Mujahidin'
 Adakah yang bisa membedakan kedua bendera di bawah ini?



1. Bendera pertama, corak merah-putih-hitam dengan 2 bintang hijau di tengah, adalah bendera rezim Suriah. Bendera ini juga merepresentasikan ideologi Ba'ats (Sosialis-pan Arab) di Suriah. Dimana partai Ba'ats memang memonopoli kekuasaan di negeri ini. 3 warna diadopsi dari bendera Nasseris di Mesir.

Sejak Hafidz al-Assad berkuasa, giliran partai Ba'ats yang dimonopoli oleh kalangan minoritas penganut agama Alawite/Nushairiyah.

2. Bendera kedua berwarna merah adalah bendera partai sosialis Afghanistan (Marxis) yang pernah resmi berkuasa antara 1978-1992. Nama Inggrisnya "People's Democratic Party of Afghanistan" atau (PDPA).

Kedua bendera di atas mewakili kekuasaan kelompok sosialis (sekuler sayap kiri), dengan corak kenasionalisan sesuai tokoh dan wilayahnya masing-masing.

Selain kesamaan tersebut, ada kesamaan lain dari dua partai penguasa itu.

Yaitu mendapatkan kemelut politik berujung perlawanan rakyatnya. Revolusi Suriah pecah pada 2011, dan perang Afghanistan meletus di akhir 70-an saat Soviet berupaya menjaga sekutunya dalam konflik internal pemerintahan.

Kesamaan lainnya, baik rezim Assad maupun PDPA meminta bantuan negara besar asing untuk membantu mempertahankan kekuasaannya, melawan perlawanan rakyatnya.

Kini Assad bertameng pada Rusia, sedangkan PDPA ditolong oleh buyut Rusia, yaitu Uni Soviet. Soal serangan, jangan ditanya. Kota-kota dibombardir, kampung-kampung rata dengan tanah.

Pemboman blok timur sangat masif dengan menggunakan bom massal.

Baik Rusia di Suriah dan Soviet dulu di Afghanistan, sama-sama ingin melindungi rezim yang didukungnya.

Ada kesamaan, ada pula perbedaan. Perbedaan utamanya adalah, kekuasaan Sosialis Ba'ats Suriah berhasil diambil oleh klan Assad yang beragama Nushairiyah, sebuah sekte Syi'ah. Minoritas diantara mayoritas Muslim Sunni.

Sebaliknya, para penguasa kiri Afghanistan justru diketahui sebagai "Muslim Sunni". Contohnya Muhammad Najibullah.

Meski demikian semua orang di dunia populer tahu dengan kepahlawanan mujahidin Afghanistan. Bahkan beberapa film buatan Holywood didedikasikan untuk mereka. Seperi Rambo dan Charlie Wilson's War.

Mujahidin membuat Beruang merah di era Komunis rugi besar dalam sekira 9 tahun menerjunkan militernya ke Afghanistan.

Kalau versi AS, Afghanistan saat itu menjadi balasan setimpal bagi Uni Soviet atas apa yang Barat alami di perang Vietnam.

Standar ganda propaganda

Kalangan Syi'ah dan pendukung Assad secara totalitas berada di belakang rezim Damaskus, yang dianggap sebagai pemerintah sah Suriah.

Tetapi dengan dalih serupa, tidak ada yang membela pemimpin kiri Afghanistan seperti Muhammad Najibullah, Babrak Kamal, dkk, sebagai "ulil amri" yang sah.

Padahal rezim Afghanistan ada kelebihannya dibanding rezim Assad, yaitu biarpun Sosialis dan sekuler tapi Afghan dulu masih dikuasai orang "Sunni".

Dunia Islam, pada perang Afghanistan sepakat memihak Mujahidin yang melawan pemerintah sah dukungan Komunis.

Sedangkan saat ini di kalangan tradisionalis, soal perang Suriah menyatakan "netral". Bahkan cenderung menyalahkan oposisi Sunni. Tanpa ada upaya jelas untuk menekan Assad.

Di pihak Barat, terutama AS, di perang Afghanistan rudal panggul anti pesawat, seperti Stinger, dipasok secara massal untuk Mujahidin yang melawan rezim.

Sementara dalam perang Suriah, Obama berulang kali menolak memberi Manpad dengan berbagai alasan. AS lebih memilih ke kelompok afiliasi Kurdi dan SDF.

Turki dan Pakistan jadi negara penanggung beban terbesar dalam 2 perang itu. Selain juga sama-sama membantu kelompok pejuang.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.