Ilustrasi tengkorak Homo Sapiens (Manusia cerdas) dari masa lalu
Pertanyaan:
Mengapa putra-putri nabi Adam yang bersaudara bisa menikah sedarah (incest), padahal kita tahu yang seperti itu bisa membuat keturunannya cacat?


Jawab:
Oleh Redaksi Risalah

Di era modern, hubungan antara ilmu pengetahuan (sains) dan agama kerap menjadi kontroversi.

Penggunaan sains yang dicocok-cocokkan (cocologi) dengan dogma agama kerap menimbulkan kesimpulan yang cacat hingga hoax.

Sebaliknya, sains yang dibenturkan dengan agama justru merusak sikap ilmiah karena memunculkan rasa antipati pada hal-hal yang bersumber dari agama.

Setiap dogma ditolak tanpa verifikasi ilmiah layaknya sebagai suatu hipotesis.

Kisah kehidupan manusia pertama misalnya, sains di masa kini tidaklah mengenal hal itu. Karena evolusi menyimpulkan spesies manusia berkembang dari moyangnya lewat sebuah grup/kelompok.

Tapi bukan berarti meniadakan konsep manusia pertama secara total. Jika masuk akal, konsep tersebut statusnya setara hipotesis.

Secara teoritis, eksistensi Adam dalam agama Islam sangat terbuka untuk dikaji sebagai dugaan ilmiah.

Di kalangan ilmuwan sekuler sekalipun, banyak beredar hipotesis "nyeleneh" yang dianggap menyimpang dari teori mainstream mayoritas ilmuwan.

Misalnya teori bahwa manusia modern merupakan hasil rekayasa kecerdasan ektraterestrial (alien). Dugaan muncul dari pola gen dan sifat alami manusia yang "tak alami" jika dibandingkan dengan spesies lain di bumi. Manusia menjadi rantai makanan tertinggi. Mampu memanipulasi ekosistem. Hingga rekayasa genetika, dan mimpi menaklukkan hukum fisika menembus batas semesta.

Di lain sisi, dogma Islam secara jelas menyebut bahwa manusia pertama adalah Adam, lalu dari rusuknya diciptakan Hawa. Mengingkarinya berarti mengingkari Qur'an yang berkonsekuensi murtad.

Tapi untuk dikaji sains, premis Islam ini bisa dipandang sebagai "sesuatu yang sangat mungkin".

Argumen mendasarnya adalah kemampuan manusia masa kini yang coba meniru 'penciptaan Tuhan' lewat berbagai rekayasa biologi untuk memunculkan produk baru yang belum ada sebelumnya.

Lalu apa masalahnya menduga manusia pertama adalah Adam? Ini pertanyaan untuk kaum liberal yang menganggap penciptaan Adam tak masuk akal.

**Arti penciptaan adalah mengadakan sesuatu yang belum ada, baik yang tak ada hakikatnya, atau kedua, mengubah dari sesuatu (bahan) yang ada menjadi produk baru.

Penciptaan Adam menurut Islam didasarkan pada nomor 2. Manusia pertama diwujudkan dengan tangan-Nya sendiri**

Putra-putri Adam dan Hawa
Setelah penciptaan dan tinggal di surga, Adam dan Hawa berbuat kesalahan lalu diturunkan ke bumi secara tak terhormat, dan mereka pun berkembang biak.

Akan tetapi kerap muncul pertanyaan ilmiah, bagaimana perkawinan anak-anak mereka bisa terjadi secara incest?

Jika merujuk kehidupan sekarang, perkawinan sedarah akan membahayakan kualitas keturunan.

Klaim ini bisa jadi benar, bisa jadi salah. Karena dalam dogma agama, Adam diciptakan langsung oleh Allah Ta'ala sebagai sebaik-baiknya bentuk.

Sehingga Adam dan Hawa dapat diasumsikan sebagai manusia super original yang tidak membawa gen buruk.

Sedangkan penyebab penyakit pada perkawinan sedarah sebetulnya bukan karena peristiwa incest-nya, melainkan akibat probabilitas (kebolehjadian) dari akumulasi gen-gen merugikan dari orang tua berhubungan saudara.

Adam dan Hawa yang tak memiliki gen buruk mampu menghasilkan keturunan langsung yang nyaris sama baiknya.

Sehingga, antar saudara dapat saling kawin-mengawini tanpa menyebabkan keturunannya mengalami kecacatan oleh gen buruk dan letal (gen-gen yang dalam homozigot/berpasangan bisa mematikan).

Sifat merugikan biasanya resesif (tertutup gen dominan), namun incest memungkinkan orang tua yang membawa gen itu mengumpulkan pada anaknya. Sehingga sifat buruk akan muncul.

Dalam perkawinan putra-putri Adam, tak ada gen-gen resesif buruk yang bisa berpasangan. Belum ada sifat merugikan.

Namun di lingkup perkawinan sekerabat sempit ini, keluarga Adam sangat rentan pada mutasi genetik.

Mutasi akan cepat terjadi, yang bisa menghasilkan variasi sifat-sifat baru atau bahkan penyakit (penyimpangan gen), pada beberapa generasi setelahnya.

Untuk memahami bahaya perkawinan incest bisa melihat skenario sederhana menggunakan hukum Mendel (lama):

A dan B merupakan saudara kandung

A membawa sepasang gen-gen: Xx, Pp, Uu, Kk, Oxo
Sementara adik perempuannya, B, membawa gen xx, Pp, Uu, Kk, Oxo

Sifat yang dibawa oleh gen:
X = normal, x = kelainan ginjal;
P = normal, p = pembawa letal:
U = normal, u = gangguan jantung;
K = normal, k = retina cacat:
Ox = gangguan kulit, o = normal;

Jika terjadi incest maka kemungkinan anak A dan B:
*anak pertama (letal/mati) ==> Xx (ginjal normal), pp (letal), UU (jantung normal), kk (retina cacat), OxOx (gangguan kulit)
*anak kedua (berumur pendek) ==> xx (gangguan ginjal), Pp (normal), uu (gangguan jantung), kk (retina cacat), Oxo (gangguan kulit)

Skenario itu tidak berlaku pada putra-putri Adam langsung. Gen-gen yang dimiliki tak ada yang buruk.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.