Para peneliti mencoba membuat embrio dari campuran sel induk manusia dan Babi. Tujuannya adalah untuk menciptakan organ yang bisa dicangkok di masa depan

Ilustrasi (Aljazeera)

Para peneliti mencoba membuat embrio dari campuran sel induk manusia dan Babi, menurut laporan Al-Jazeera pada Jumat (27/1).

Tujuannya adalah untuk menciptakan organ yang bisa dicangkok di masa depan.

Namun penelitian ini masih dalam tahap awal dan mungkin cukup sulit direalisasikan.

"Ini adalah tahap pertama yang penting", ujar kepala penelitian Prof. Juan Carlos Izpisua Belmonte dari Institut Salk, Amerika Serikat.

"Tujuan utamanya adalah menumbuhkan organ atau jaringan yang dapat berfungsi, serta suatu saat bisa dilakukan transplantasi. Tapi kami masih jauh dari hal itu", ujarnya.

Para ilmuwan melakukan penelitian dengan menanamkan sel induk manusia dewasa (intermediate induced pluripotent stem cells) ke dalam embrio Babi, lalu menumbuhkannya selama empat minggu.

Mereka menghentikan pertumbuhan embrio agar tidak menciptakan makhluk yang memiliki campuran gen manusia-hewan.

Dari proses itu, sel-sel manusia mulai terbentuk dalam jaringan otot embrio Babi.

Penelitian telah dicoba pada 1.500 embrio babi dalam waktu 4 tahun, lebih lama dari yang diperkirakan peneliti.

Kemungkinan terciptanya makhluk campuran manusia-hewan menimbulkan kontroversi dan pertanyaan tentang etika.

Secara teoritis, eksperimen memungkinkan terciptanya hewan dengan kemampuan dan kecerdasan manusia, karena faktor gen yang ditanam.

Namun, staf ilmuwan Salk Institute Juni Wu meyakinkan bahwa tingkat pengaruh gen manusia terhadap sifat embrio Babi hanya di level "rendah", dan tidak termasuk sel-sel otak.

Penelitian sebelumnya telah menghasilkan kombinasi (hibrid) dari dua jenis Tikus yang berkekerabatan dekat.

Bruce Whitelaw, profesor bioteknologi hewan dari Universitas Edinburgh, memberi komentar "menarik" terhadap eksperimen tersebut.

Menurutnya, penelitian "membuka jalan bagi kemajuan signifikan".

Darren Griffin, profesor genetika di Universitas Kent, menilai penelitian itu membantu "memahami evolusi, pengembangan dan penyakit".

Ia juga menambahkan, hasilnya bisa memberikan solusi kekurangan organ yang siap transplantasi.

"Dalam penelitian ini, penulis mengikuti pedoman hukum dan etika yang ada, membuat embrio (hanya) berkembang dalam waktu maksimum yang diizinkan", katanya.

"Penelitian lebih lanjut sebaiknya dilakukan dengan transparansi sehingga memungkinkan pengawasan publik dan debat terbuka", kata Griffin.

Seperti diketahui, spesies manusia dan Babi memiliki kemiripan materi genetik hingga 98%.

Sehingga upaya rekayasa relatif lebih mudah dan murah dalam mencocokkan proses transpalansi organ, jika dibandingkan spesies hewan lain. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.