Meski upaya standarisasi khatib dapat menimbulkan kecurigaan umat Muslim, dimana negara hendak mengontrol khatib dan khutbah shalat Jum'at

ilustrasi shalat jumat (BBC)

Ketua 1 PBNU Masdar Mas'udi menyambut baik wacana standarisasi khatib atau penceramah shalat Jum'at yang digulirkan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin.

Dengan alasan adanya kerisauan isi ceramah yang menebar kebencian.

Masdar,yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, menilai standarisasi dan sertifikasi khatib mendesak diterapkan karena selama ini "tidak berada dalam wadah tertentu yang terdisiplin".

"... Wacana standarisasi khatib ini penting supaya khutbah bisa menggambarkan wajah sejati Islam yang damai, yang menghormati sesama, bahkan berbeda agama sebagaimana disebutkan Lakum Dinukum Waliyadin atau bagimu agamamu dan bagiku agamaku", kata Masdar, dilansir dari BBC Indonesia.

Masdar menilai, sejumlah khatib memiliki isi khutbah yang "memprovokasi, menebar kecurigaan, kebencian kepada orang lain".

"Khatib-khatib yang semacam ini perlu dicatat dan dibina supaya agama Islam tidak berubah menjadi agama kebencian terhadap sesama hanya karena beda paham", ujar Masdar

Masdar mengakui upaya standarisasi khatib dapat menimbulkan kecurigaan umat Muslim, dimana negara hendak mengontrol khatib dan khutbah shalat Jum'at.

Dalam keterangan yang dimuat di laman Kementerian Agama, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menepis anggapan negara berusaha mengintervensi khutbah Jum'at.

"Tidak ada maksud dari pemerintah ingin intervensi terhadap ajaran agama, atau membatasi ruang gerak khatib", ucap Lukman.

Menurutnya, Pemerintah ingin memastikan khatib Jum'at memenuhi kriteria keilmuan dengan istilah "dzu ilmin" atau memiliki ilmu karena "shalat Jumat adalah kewajiban yang betul-betul harus dijaga syarat rukunnya".

Untuk itu, Kementerian Agama mengundang MUI, Muhammadiyah, NU, berbagai ormas Islam lainnya, juga beberapa fakultas peguruan tinggi keagamaan dalam merumuskan standarisasi.

Menteri Agama tidak menyebutkan apakah pihaknya mempertimbangkan memberi sanksi kepada khatib yang isi khutbahnya dianggap menebar kebencian.

Namun, Masdar Mas'udi mengatakan aparat dapat menindak menggunakan undang-undang tentang ujaran kebencian. (BBC Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.