“Bapak itu selalu sholat berjamaah di masjid. Salaman dengan perempuan aja gak pernah. Sama non muhrim itu gak mau sentuhan, koq disangka sampai berbuat macam-macam?”

Patrialis Akbar dikenal dekat dengan kalangan Islamis
Penangkapan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi trending topic pekan ini.

Berita miring dan hoax yang menyerang karakter dihembuskan oleh berbagai media. Misalnya Patrialis diberitakan ditangkap di hotel esek-esek, di rumah kost mewah bersama perempuan cantik.

Supir pribadi Patrialis Akbar yang bekerja sejak 2001, Slamet, menepis tuduhan yang beredar.

Ia menegaskan, informasi esek-esek dan perempuan itu adalah tidak benar. Slamet sangat yakin sang majikannya tidak melakukan seperti yang digosipkan banyak orang.

“Bapak itu selalu sholat berjamaah di masjid. Salaman dengan perempuan aja gak pernah. Sama non muhrim itu gak mau sentuhan, koq disangka sampai berbuat macam-macam?”, kata Slamet saat ditemui di Kediaman Patrialis Akbar di Jakarta Timur, Sabtu (28/1) malam.

Menurutnya, Patrialis adalah sosok dermawan yang suka berbagi kepada kaum lemah.

“Kalau ada orang yang minta-minta tidak pernah ditolak, selalu diberi. Kalau habis makan di rumah makan, biasanya beli nasi sepuluh atau dua puluh bungkus dan dibagikan kepada orang-orang”, kata Slamet.

“Bapak mempunyai akhlakul karimah, shalat dipelihara, sangat dermawan. Orang yang minta sama beliau, pasti dikasih,” kata Slamet kepada wartawan.

Slamet menuturkan, Patrialis memiliki kebiasaan membagikan nasi bungkus kepada orang-orang.

“Kalau habis makan di rumah makan, biasanya beli nasi sepuluh atau dua puluh bungkus dan dibagikan kepada orang-orang”, kata Slamet.

Pria asal Tegal ini tak percaya jika majikannya melakukan praktik suap.

“Saya 1000 persen yakin (pak Patrialis) gak bersalah. Saya hampir 20 tahun sama bapak. Saya tahu betul sifat beliau”, tegasnya.

Hal serupa pula dikatakan oleh anak kedua Patriais, Adil Akbar.

Adil mengatakan, ayahnya adalah sosok teladan dalam kedermawanan. Selain itu juga dikenal sebagai sosok yang penyabar.

“Pernah ada masalah dengan seseorang, papah dicaci maki, tapi tidak membalas cacian itu, hanya diam saja”, ujar Adil.

Ia menegaskan bahwa ayahnya merupakan sosok yang teguh dalam memegang pendirian.

Adil menyaksikan ayahnya sejak menjadi anggota DPR RI, Menkum HAM hingga menjadi hakim MK tak pernah mau menerima pemberian yang berhubungan dengan jabatan.

Adil bercerita, suatu ketika ada orang yang ingin menyuap ayahnya melalui perantara kurir. Orang itu memberikan sejumlah uang kepada Patrialis.

“Pak, ini ada uang untuk bapak”, kata Adil menirukan ucapan kurir.

Mendapati ada orang yang memberinya uang, Patrialis marah dan menghardik kurir tadi. “Balikkan uang ini”, kata Patrialis seperti diucapkan Adil.

Yuko, putra keempat Patrialis juga membenarkan keterangan sang kakak.

“Menerima uang suap untuk apa? Papa pernah jadi anggota DPR, pernah jadi menteri dan komisaris perusahaan. Uang papa sudah cukup. Papa juga biasa ajak orang untuk umrah dari biaya papa. Uang suap untuk apa?”, kata Yuko meyakinkan bahwa ayahnya tak bersalah. (Fokus Islam)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.