negosiator oposisi menyatakan keberatan atas peran Iran sebagai pemantau

Utusan khusus PBB Staffan De Mistura hadir dalam perundingan Astana (Reuters/AlJazeera)

Rusia, Turki dan Iran telah berjanji memperkuat kesepakatan gencatan senjata di Suriah melalui perundingan Astana, Selasa (24/1).

Namun negosiator oposisi menyatakan keberatan atas peran Iran sebagai pemantau.

Tiga negara tersebut mengumumkan pembentukan "mekanisme trilateral untuk memantau dan memastikan kepatuhan pada gencatan senjata".

Mereka juga sepakat, kelompok oposisi yang hadir dalam pertemuan Astana akan ambil bagian dalam pembicaraan perdamaian disponsori PBB bulan depan di Jenewa.

Osama Abu Zaid, biro hukum FSA, menegaskan bahwa partisipasi oposisi pada pembicaraan Jenewa tergantung pemenuhan tuntutan.

"Kami membuat bagan mekanisme untuk memantau dan melaksanakan gencatan senjata", kata Abu Zaid dilansir dari Al-Jazeera.

"Rusia berjanji meninjau (usulan tersebut) dalam seminggu serta akan membuat keputusan bersama dengan Turki", lanjutnya.

Sementara pernyataan 3 negara mengklaim rezim Suriah dan oposisi telah sepakat untuk "bersama-sama melawan ISIS dan Jabhah Nushrah, serta memisahkan mereka dari kelompok bersenjata".

Jabhah Nushrah atau Jabhah Fathu Syam adalah kelompok bersenjata bekas al-Qaeda yang dianggap sebagai "kelompok teroris", bersama dengan ISIS.

Namun JFS selama ini bersekutu dengan kelompok oposisi melawat rezim Assad dan milisi Syi'ah. Meski demikian, mereka kerap dijadikan legitimasi dilakukannya serangan udara.

Para pejabat oposisi membantah adanya pengecualian kelompok (untuk menyerang JFS) dalam kesepakatan.

"Ini adalah pernyataan bersama oleh tiga negara. Kami bukan bagian dari perjanjian tersebut. Ini adalah perjanjian antara Rusia, Iran dan Turki. Mereka dapat menandatangani perjanjian apapun yang mereka inginkan, tapi kami memiliki banyak tuntutan sendiri", ujar Abu Zeid.

Menurut oposisi, keberhasilan perundingan tergantung pada "penarikan semua milisi asing (Syi'ah dukungan Iran)", serta kemampuan Rusia-Turki untuk memastikan Iran mematuhi perjanjian.

Perwakilan rezim Suriah, Basyar al-Jaafari mengatakan bahwa pertemuan "berhasil mencapai konsolidasi dengan penghentian permusuhan dalam jangka waktu yang ditetapkan" dan membuka jalan dialog Suriah.

Tetapi belum ada rician mekanisme jelas dari hasil pertemuan itu. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.