Senjata-senjata Barat di Irak dilaporkan jatuh ke tangan militan Syi'ah yang bertindak di luar hukum

Popular Mobilization meluncurkan roket (Arabnews)

Milisi Syi'ah dianggap melakukan kejahatan perang, dengan menggunakan senjata dari negara lain yang dipersiapkan bagi tentara Irak untuk melawan ISIS.

Laporan ini disampaikan oleh Amnesty International pada Kamis (5/1).

Organisasi HAM tersebut menyebut grup bernama Hashid Shaabi (juga dikenal dengan Popular Mobilization), menggunakan senjata dari gudang militer Irak untuk melakukan kejahatan perang, termasuk penghilangan paksa, penyiksaan dan pembunuhan.

Militan Syi'ah itu menyangkal tuduhan ini.

Parlemen menunjuk Hashid sebagai bagian dari operasi militer Irak November lalu. Acara peresmian diboikot perwakilan Sunni Irak, yang khawatir pasukan mayoritas Syi'ah tersebut akan memberi efek buruk di daerah Sunni.

"Pemasok senjata internasional seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Rusia dan Iran, harus sadar bahwa pengiriman senjata ke Irak membawa risiko jatuh ke tangan kelompok-kelompok milisi yang memiliki sejarah panjang pelanggaran HAM", ujar peneliti Amnesty, Patrick Wilcken.

Negara yang ingin menjual senjata ke Irak harus melakukan pengawasan ketat sehingga digunakan tangan yang tepat, tambahnya.

Amnesti telah melakukan studi lapangan dalam dua setengah tahun, termasuk mewawancarai puluhan mantan tahanan, saksi, korban, dan keluarga dari korban tewas, ditahan atau hilang.

Laporan difokuskan pada 4 grup milisi utama, yang sebagian besar menerima dukungan dari Iran, yaitu Organisasi Badr, Asaib Ahl Al-Haq, Kataib Hizbullah dan Saraya Al-Salam.

Ada beberapa tuduhan pelanggaran serius yang dilakukan Hashid sejak awal serangan besar ke Mosul pada 17 Oktober lalu. (Arabnews)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.