Keseharian Almarhum banyak dihabiskan di kediamannya serta beribadah di masjid

Takmir Masjid Babus Salam di Lawang, Kabupaten Malang, bernama Miftahul Arifin (63) telah wafat.

Keluarga, bahkan masyarakat sekitar, turut kehilangan sosoknya. Ia dikenal sebagai haji yang hidup sederhana.

Rendah hati serta ringan tangan. Begitulah figur yang melekat pada Abah Miftah, yang meninggal dunia dalam kondisi sujud saat menunaikan shalat Sunnah ba'da Isya' di Masjid Babus Salam, Selasa (3/1) lalu.

Keseharian Almarhum banyak dihabiskan di kediamannya serta beribadah di masjid.

Abah Miftah juga dikenal sebagai pedagang Kambing. Bila ada warga meninggal, biasanya Abah Miftah selalu datang mengawali prosesi pemulasaraan jenazah.

"Beliau orangnya baik, selalu memandikan jenazah ketika ada warga meninggal", ujar Hanafi, ketua RW setempat, dikutip Dtikcom, Jum'at (6/1/).

Abah Miftah meninggal saat sujud (Screenshot video yang viral di YouTube)

Banyak warga yang kagum terhadap kealiman serta kesederhanaan Miftah. Kondisi meninggal Abah Miftah dalam posisi sujud diyakini warga karena kebajikannya.

"Orangnya alim", sebut Hanafi.

Masjid Jami Babus Salam dibangun tidak lain juga karena peran kakek buyut Abah Miftah.

Sampai Abah Miftah mengembuskan napas terakhir, masjid itu menjadi tempatnya beribadah shalat fardlu berjama'ah.

"Mulai kakeknya memang rajin ke masjid. Orangnya tidak aneh-aneh meskipun sudah haji dua kali", ungkap Hanafi.

Hanafi tidak memungkiri banyak komentar di media sosial soal kondisi meninggalnya Abah Miftah.

Baik-buruk pandangan orang akan pasti terjadi. Menurutnya, keseharian Almarhum bisa menjadi pelajaran berharga.

"Jangan sampai menimbulkan fitnah. Meninggal dalam kondisi seperti itu, kami menganggap justru baik karena kealiman beliau", tutur Hanafi.

Keluarga sendiri kurang berkenan jika kematian Abah Miftah menjadi konsumsi publik berlebihan.

Mereka khawatir akan timbul banyak fitnah yang justru akan memengaruhi kesempurnaan akhir hayat Abah Miftah.

"Mohon maaf kami sampaikan sebelumnya. Kami memandang abah (Miftah) wafat sempurna. Jangan sampai arwah sudah tenang justru terganggu karena fitnah. Abah mengajarkan kepada kami untuk tetap rendah hati dan peduli sesama", kata Arif, putra kedua Abah Miftah.

Karena sudah menjadi kesepakatan keluarga, Arif tidak berkenan untuk menceritakan kepribadian sosok ayahandanya.

"Mohon maaf sebelumnya", ucapnya.

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Abah Miftah. Pelayat banyak berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa. (Detikcom)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.