Perang produksi minyak ternyata cukup rumit. Sesama OPEC (Saudi vs Iran), OPEC-Rusia hingga pesaing di Amerika Utara

(Reuters)

Produksi minyak direncanakan dipangkas oleh pemain besar OPEC beserta Rusia.

Sementara itu Amerika Utara, Iran, dan Irak juga akan memasok persediaan kebutuhan minyak dunia. Hal ini mengganggu upaya membatasi berlimpahnya persediaan minyak dunia.

Harga dari perusahaan minyak Brent, yang biasanya menjadi patokan harga internasional dibuka pada angka $54.99 per barel pada Selasa (10/1), naik 5 sen dari harga saat penutupan kemarin.

Sedangkan perusahaan West Texas Intermediate naik sebesar 8 sen menjadi $52.04.

Irak, produsen terbesar kedua dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), telah mengalokasi pasokan minyak mentah Basra kepada tiga penyuling di Asia dan Eropa pada Februari mendatang.

Para pedagang mengatakan, pasar minyak memiliki harga lebih baik dalam kisaran $ 50 per barel setelah adanya upaya pemotongan oleh anggota OPEC, terutama dari Arab Saudi dan Abu Dhabi.

Namun terdapat ketidakpastian karena produsen lain meningkatkan produksi.

Memunculkan keraguan adanya implementasi penuh dari OPEC-Rusia, mengingat adanya persaingan kubu produsen di luarnya.

"Jumlah rig Kanada pada Desember 2016 mencapai 209, naik 36 dari 173 pada November 2016", kata Matt Stanley, broker bahan bakar pada Freight Service Internasional di Dubai.

"Jumlah tersebut naik sebesar 30 dari tahun sebelumnya", tambahnya.

Pengeboran produksi minyak di Amerika Serikat juga meningkat.

Perusahaan-perusahaan energi pekan lalu menambahkan rig selama 10 minggu berturut-turut. Harga minyak mentah saat ini dapat membawa keuntungan bagi pengebor.

Departemen Energi AS pada Senin lalu mengeluarkan Notice of Sale untuk minyak mentah dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), dengan tawaran sebanyak 8 juta barel minyak mentah.

Hal ini dilakukan untuk mendanai perbaikan infrastruktur.

Perang harga minyak telah terjadi sejak 2014, ketika Arab Saudi menaikkan angka produksi.

Kebijakan itu membuat para pesaing kepayahan. Rusia yang merupakan pendukung Basyar al-Assad di Suriah, terkena imbas.

Perekonomian Moskow makin terpukul akibat jebloknya pendapatan. Sebagaimana Riyadh yang mengalami defisit terbesar sepanjang sejarah anggaran.

Meski rendahnya harga membuat produsen-produsen di Amerika Utara menjadi tak bergairah. Industri yang baru berkembang itu lesu.

Cadangan besar energi hidrokarbon di Amerika Utara tak berguna selama berbulan-bulan.

Negosiasi pembekuan produksi minyak selalu kandas sepanjang 2016, terutama alotnya tuntutan Saudi, Rusia dan Iran.

Iran sendiri terkena imbas rendahnya harga pasca pencabutan sanksi. Pemulihan industri minyak mereka tak sesuai yang diharapkan, karena langsung berhadapan dengan perang harga oleh sang rival, Arab Saudi. (Reuters/rslh)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.