Sebelumnya Hary Tanoe telah aktif bergerilnya "mendekati pesantren", meski kemudian dikecam dan ditolak umat Islam

Hary Tanoe dan Donald Trump
Hary Tanoe, mitra bisnis presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump, menyatakan keinginan untuk mengikuti jejak rekannya itu agar menjadi presiden di Indonesia.

"Bila tidak ada seorang pun yang saya percayai bisa menyelesaikan masalah negeri ini, saya akan mencalonkan diri jadi presiden", kata Hary Tanoesoedibjo, dalam sebuah wawancara dengan media Australia, ABC.

"Ini bukan untuk diri saya pribadi, tetapi untuk negeri ini", katanya.

Hary Tanoe memang membuat sebuah partai politik bernama Partai Persatuan Indonesia, atau Perindo. Yang gencar dipromosikan oleh media-media miliknya.

"Kami memerlukan seorang pemimpin yang memiliki integritas yang bisa membawa pemecahan bagi negeri ini", lanjut Tanoe.

Jika tercapai, sesama rekan bisnis Tanoe dan Trump sama-sama meningkat menjadi sesama presiden, hal yang mungkin bisa menciptakan konflik.

Tanoe terlibat dalam proyek-proyek Trump di Indonesia, satu di Bali dan satu lagi di dekat Jakarta.

Gerilya Hary Tanoe
Ada satu hal menarik yang dilakukan Hary Tanoe dalam berpolitik, yaitu coba mendekati umat Islam dan kalangan pesantren, meski ia adalah penganut Kristen Protestan.

Jaringan media miliknya sangat 'soft' dalam memberitakan kalangan Islamis, dibanding media lain.

Tanoe baru-baru ini mendirikan Yayasan Peduli Pesantren, namun penolakan muncul dari tokoh agama di berbagai daerah.

Tokoh Islam yang menolak menilai yayasan Tanoe mengesankan pesantren diabaikan, padahal ada di bawah koordinasi Kemenag.

Mereka juga menolak yayasan itu karena selain dianggap meresahkan, langkah itu juga dipandang sebagai "filantropi politik".

Pihak yayasan itu sendiri mengklaim bahwa bantuan pendidikan, termasuk pesantren, tidak ada kaitannya dengan agama.

Dalam pengelolaan yayasannya, Tanoe menggandeng ketum PBNU, Said Aqil Siradj. Ia juga kerap berfoto-foto di pesantren.

Meski umat Islam masih kuat menolak kepemimpinan non-Muslim (orang kafir) di Indonesia. Tapi Tanoe mengaku tetap optimis.

"Indonesia siap untuk pemimpin dari latar belakang apa saja. Mayoritas warga bersikap lebih realistis. Mereka menginginkan pemimpin yang bisa membawa solusi", katanya. (AustraliaPlus/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.