Untuk pertama kalinya saksi hidup pembuat coretan anti Assad di kota Dara'a , peristiwa yang memicu revolusi

Orient-news

Perang Suriah hampir memasuki tahun ke-7. Banyak teori konspirasi mengenai asal mula konflik itu yang dikemukakan.

Namun, cerita sebenarnya mungkin sangat berbeda jauh dengan semua asumsi propaganda tersebut.

"Hal itu bermula dari penentangan sederhana yang dilakukan oleh sekelompok remaja, tapi berakhir dengan pecahnya konflik Suriah. Memunculkan berbagai tindakan kekerasan yang kemudian mengguncang Timur Tengah, bahkan dunia", tulis Mark MacKinnon dalam sebuah artikel di The Globe and Mail.

MacKinnon menceritakan mengenai sekelompok remaja laki-laki membuat tulisan grafiti di dinding sekolah al-Banin, di selatan Dara'a.

Salah satunya bernama Naief Abazid, yang saat kejadian masih berumur 14 tahun.

Saat ini, Naief berada di Austria setelah mendapat suaka pada 2015 lalu. Pertama kalinya, ia menceritakan kejadian tersebut untuk dipublikasi MacKinnon.

"Saya masih kecil saat itu, saya tidak tahu apa yang saya lakukan", ujar Naief.

16 Februari 2011, Naief membuat coretan-coretan di dinding yang diakuinya atas suruhan teman-temannya yang lebih tua. Mereka melakukannya sebagai sebuah lelucon.

"Sekarang giliranmu dokter Basyar al-Assad", tulis grafiti itu, merujuk suasana Arab Spring 2011.

Namun, rezim Assad sepertinya memiliki "selera humor" berbeda.

Tulisan yang dibuat oleh Naief dkk dianggap "menyinggung" rezim dan memunculkan respon spontan. Di kemudian hari terjadilah efek domino oleh berbagai peristiwa kekerasan.

Naief hadir di sekolah seperti biasa keesokan hari setelah membuat coretan. Namun, namanya tiba-tiba dipanggil melalui pengeras suara, menyuruhnya datang ke ruang kepala sekolah.

Ia segera diinterograsi oleh seorang lelaki yang mengaku dari Kementerian pendidikan. Dari logat bahasanya, Naief segera tahu orang itu berasal dari kampung halaman Assad, Latakia, yang mayoritas Alawite.

Orang itu kemudian dikenali sebagai anggota intelijen rezim yang cukup ditakuti, Mukhabarat.

Naief diborgol dan dipaksa masuk ke dalam mobil. Tiga orang lain terus memukulnya sepanjang perjalanan.

Di suatu tempat, pergelangan tangan Naief digantung ke langit-langit, sedang tubuhnya dicambuki dengan kabel tebal.

Naief disiksa sampai memberikan nama 5 teman lain yang bersamanya di malam penulisan coretan grafiti anti rezim.

Semua anak itu mengalami hal serupa, langsung ditangkap dan disiksa. Bahkan dipaksa memberi nama teman lain yang tidak jelas keterlibatannya.

Pasukan keamanan rezim menangkap hingga 23 anak yang dituduh terkait coretan grafiti tersebut, dengan maksud meredam kemungkinan munculnya revolusi.

Masa itu, dunia Arab memang dikepung gejolak politik untuk menjungkalkan rezim diktator akibat pemicu-pemicu sederhana. Suriah pun bisa berlaku serupa.

Orang tua anak yang ditangkap khawatir karena tidak diperkenankan melihat kondisi putranya.

Hilangnya warga secara misterius sudah biasa selama pemerintahan rezim Assad yang menerapkan hukum darurat.

Namun, kali ini dengan banyaknya laporan anak hilang, justru segera memicu potensi protes warga.

9 hari setelah kejadian, tepatnya 26 Februari, tokoh-tokoh masyarakat di sekitar kota Dara'a bertemu Atef Najib, sepupu Basyar yang bertanggung jawab pada urusan keamanan Dara'a.

Najib memberitahu mereka, "Lupakan anak-anak kalian dan miliki anak yang baru. Jika kamu tidak bisa, kirim istri kalian dan kami pastikan mereka akan hamil".

Tiga minggu setelahnya, atau 18 Maret 2011, warga Dara'a turun ke jalan melancarkan aksi protes mengenai penangkapan anak-anak oleh rezim.

Dan setelah itu, revolusi meletus akibat efek domino kekerasan rezim, seperti kematian Hamzah al-Khatib yang diculik dan dipulangkan setelah jadi mayat.

Naief sendiri disiksa dalam tahanan selama berminggu-minggu, sebelum bebas dari penjara dan dianggap sebagai pahlawan.

Ia dan keluarganya hidup dalam kondisi sulit saat mengungsi ke Yordania. Lalu sempat kembali ke Dara'a yang telah hancur, sebelum akhirnya memutuskan ke utara negeri, termasuk harus melewati wilayah ISIS.

Mereka akhirnya bergabung dengan ratusan ribu warga Suriah lainnya menyeberang Turki untuk menuju daratan Eropa. (Orient-news/TGaM)

Naief Abazid, kini hampir berusia 20 tahun

Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.