“Tidak ada penduduk Ghouta timur yang mau berkemas untuk meninggalkan kota, lalu menyerahkannya kepada rezim, (tidak) meski mereka diancam akan dibunuh"

Anak-anak Suriah di musim dingin
Penduduk Ghouta timur, dekat ibukota Damaskus, mengatakan penolakan atas upaya rezim Assad melakukan "evakuasi" atau dipandang sebagai suatu pengusiran.

Penduduk yang terkepung di wilayah itu tidak bersedia menerima perjanjian apapun jika akhirnya hanya berujung pada pemindahan mereka, sementara wilayah Ghouta jatuh ke tangan Assad.

Ward Mardini, seorang wartawan media lokal Saqba menyatakan tidak ada warga lokal yang berkemas pergi.

“Tidak ada penduduk Ghouta timur yang mau berkemas untuk meninggalkan kota, lalu menyerahkannya kepada rezim, (tidak) meski mereka diancam akan dibunuh", jelasnya.

Komunitas itu merupakan satu dari 29 komunitas di Ghouta yang berada di bawah kontrol pejuang Sunni selama 4 tahun terakhir.

Sepanjang 2016, Assad melakukan serangkaian perjanjian di beberapa tempat terkepung.

Kelompok pejuang Islam, atau yang dituduh Assad sebagai "teroris", dituntut meninggalkan senjata beratnya dan mengevakuasi daerah itu setelah bertahun-tahun dikepung serta dibombardir.

Tempat-tempat tersebut antara lain adalah Aleppo timur, Daraya, Moadamiyah, al-Wa'er dan lain-lain.

Mereka diminta pergi dari kampungnya menuju wilayah Idlib yang dikuasai oposisi Sunni.

Seorang aktivis Ghouta timur, Abu Salim asy-Syami mengatakan bahwa dirinya dan penduduk lain berada di bawah tekanan paksa rezim Assad.

Ia menduga, rezim mungkin menggunakan taktik sama dengan yang digunakan di Aleppo timur.

Pengepungan menciptakan krisis psikologis internal bagi semua orang. Normalnya, mereka ingin segera keluar dari krisis itu.

"Itu sebabnya kami berusaha menekan faksi dan warga di sini agar bersatu sehingga bisa menghasilkan prospek politik yang jelas terkait tuntutan kami", ujar asy-Syami.

"Jika kita ingin menyingkirkan tirani (Assad), maka kita perlu melakukan ini (persatuan)", lanjutnya.

Saat ini Ghouta timur diperkirakan masih dihuni lebih dari 300 ribu jiwa, dengan 39 komunitas berbeda.

Sementara itu terdapat banyak grup pejuang lokal, namun yang terbesar adalah Jaisyul Islam dan Failaq ar-Rahman. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.