Tahun lalu mencatatkan rekor pembunuhan terbanyak aparat Israel pada anak Palestina dalam 1 dekade terakhir

foto : Ilustrasi (Al-Jazeera)

Jumlah anak yang dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat dan Yerusalem pada 2016 meningkat dibandingkan sepuluh tahun terakhir.

Laporan ini disampaikan oleh Kelmpok Hak Asasi “Defence for Children International” (DCI).

DCI mencatat, terdapat 32 anak Palestina (berumur dibawah 18 tahun) yang terbunuh di wilayah-wilayah yang direbut Israel.

19 diantaranya masuk dalam kategori umur 16-17 tahun dan 13 lainnya masuk dalam kategori umur 13-15 tahun.

2016 disebut sebagai “tahun paling mematikan dalam satu dekade ini”. Jumlah korban di tahun 2015 mencapai 28 anak. Pada 2014, tercatat 13 anak terbunuh, dan 8 anak pada 2013.

Mayoritas korban terbunuh saat terjadi penyerbuan pasukan Israel ke kota-kota Palestina di Tepi Barat, saat berhadapan langsung dengan tentara Israel, atau pada saat melakukan aksi protes.

“Tentara Israel memiliki kebijakan (langsung) menembak mati. Mereka membolehkan pembunuhan terhadap warga Palestina, dan kenyataannya mereka memiliki kekebalan hukum dan tidak ada tuntutan atas tindakan itu”, ujar Ayed Abu Eqtaish, Direktur Program Akuntabilitas DCI Palestina.

Sejak Oktober 2015, tentara dan pemukim Yahudi bertanggung jawab atas pembunuhan 244 warga Palestina yang merupakan demonstran tak bersenjata, para pengamat, dan terduga kasus penyerangan dalam "Yerusalem intifada" atau pemberontakan Yerusalem.

Sedangkan dari pihak Israel, terhitung 36 korban tewas akibat insiden penusukan dan penembakan.

"Sangat jarang dilakukan investigasi atas pembunuhan-pembunuhan tersebut. Hanya ada satu kasus yang diinvestigasi pada 2014 mengenai Nadim Nuwara, dan tentara dikenai hukuman", ujar Eqtaish.

Mei 2014, sebuah video menunjukkan tentara Israel menembakkan peluru tajam ke arah 2 anak Palestina tak bersenjata bernama Nadim Nuwara (17) dan Mahmoud Abu Thaher (16). Mereka sedang menghadiri aksi protes di luar penjara Ofer, Israel.

Kedua petugas kemudian didakwa atas pembunuhan.

Faris al-Bayed (15), anak yang berasal dari kamp pengungsi di Ramallah, Tepi Barat, menjadi salah satu korban dari agresi militer Israel.

Ia terbunuh pada Oktober 2015 lalu akibat terkena peluru berlapis karet milik tentara Israel yang menembus kepalanya.

Aturan peluru karet tidak dibenarkan pada anak-anak. Peluru harus ditembakkan dari jarak 40 meter ke tubuh bagian bawah. Peluru ini biasanya digunakan untuk membubarkan kerusuhan.

Al-Bayed saat itu menghadiri pawai dekat kampnya untuk memperingati pembunuhan Ahmad Sharaka (14) yang tewas setelah mengalama 67 hari koma akibat tertembak.

"Kami tidak dapat membayangkan kepedihan yang dialami ibunya", ujar paman al Bayed, Abu Mohammad.

Menurutnya, pemuda Palestina saat ini cenderung lebih paham mengenai keadaan. Hal ini membuat anak-anak dianggap lebih berbahaya bagi Israel.

"Setiap hari ada pembunuhan, penyerangan, dan penahanan. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Dengan adanya internet dan meningkatnya kewaspadaan, anak-anak cenderung lebih rasional dan mengeri situasi yang sedang terjadi. Pembunuhan adalah bagian dari kebijakan Israel", aktivis bernama Hazem Abu Helal mengatakan

"Ini karena adanya budaya rasis dari masyarakat Israel. Tidak apa-apa membunuh warga Palestina karena dianggap memerangi teroris, baik itu laki-laki, wanita, maupun anak-anak", katanya.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan Institut Demokrasi Israel, Agustus lalu, sekitar 47% warga Yahudi mendukung pembunuhan warga Palestina yang melakukan serangan terhadap Israel, bahkan meski telah ditangkap dan tidak lagi menimbulkan ancaman.

Beberapa organisasi HAM, termasuk Amnesty International, menemukan setidaknya 150 kasus pembunuhan warga Palestina dilakukan setelah mereka tidak lagi menjadi ancaman.

Termasuk membunuh warga Palestina yang tidak terihat melakukan serangan sama sekali, atau menggunakan serangan mematikan untuk melumpuhkan penyerang meski kekuatan non-mematikan cukup menetralkan keadaan.

"Bahkan jika kita mencoba membawa tentara ke pengadilan, tidak akan terjadi apa-apa padanya. Jadi apa gunanya? Ada ribuan warga Palestina tewas selama bertahun-tahun, dan tidak ada tentara yang dihukum", kata Abu Mohammad. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.