"Semua anak di Aleppo menderita. Semua mengalami trauma"

Warga sipil Suriah menunggu di pos-pos pengungsian yang dibuat oleh pemerintah Assad setelah mereka meninggalkan Aleppo timur, hari Sabtu (Suriah, 10/12/2016 Arab News).
Kepala organisasi UNICEF di Aleppo, Radoslaw Rzehak mengatakan pada Minggu (11/12), semua anak-anak Suriah yang mengalami perang di Aleppo menderita trauma setelah menyaksikan kekerasan.

"Semua anak di Aleppo menderita. Semua mengalami trauma", ungkapnya, dilansir dari Arab News.

"Dalam hidup saya, saya belum pernah melihat situasi dramatis seperti yang terjadi pada anak-anak di Aleppo", kata Rzehak.

Rzehak memperkirakan, setengah juta anak-anak di Aleppo memerlukan beberapa jenis dukungan psikologis dan sosial. Bahkan 100.000 diantaranya akan membutuhkan bantuan khusus.

Bagian timur Aleppo merupakan basis pertahanan pihak oposisi. Pasukan rezim dan sekutunya terus memberikan serangan pada wilayah ini.

Selama beberapa pekan terakhir, penyerangan sangat intensif, sehingga banyak orang yang mulai melarikan diri keluar dari Aleppo.

Penilaian psiko-sosial yang dilakukan Rzehak di pusat-pusat pengungsian, menunjukkan bahwa anak-anak dari Aleppo timur "kehilangan insting dasar atas mekanisme pertahanan".

"Beberapa anak berusia 5-6 tahun. Ini berarti mereka lahir ketika perang sudah terjadi. Hal yang mereka tahu hanyalah perang dan pemboman", jelasnya.

"Bagi mereka, kenyataan bahwa mereka sedang dibom adalah hal yang normal, begitu juga dengan kenyataan bahwa mereka harus melarikan diri, bersembunyi di bunker, maupun merasakan lapar. Trauma ini akan bertahan untuk waktu yang sangat lama", tambah Rzehak.

Hal ini dapat beresiko bagi perilaku anak-anak, karena terkadang mereka tidak dikondisikan untuk berlindung atau bersembunyi selama pemboman.

"Bagi mereka, ini bukanlah hal yang berbahaya. Ini hanyalah kehidupan sehari-hari", lanjutnya.

Sementara itu, anak-anak dari bagian barat kota Aleppo telah melihat teman sekelas atau guru mereka tewas dalam serangan roket di sekolah.

"Tempat yang seharusnya paling aman untuk anak-anak itu menjadi tempat dimana mereka mati", kata Rzehak.

Perang bahkan mengurangi kemampuan orang tua merawat anaknya, karena merekapun harus berjuang dengan trauma yang ada pada dirinya.

"Kita tidak dapat menyalahkan orang tua. Mereka juga memiliki mimpi buruk", kata Rzehak. (Arab News)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.