Turki juga mengatakan tidak ingin pihak oposisi kembali berada di bawah kepemimpinan rezim Basyar al-Assad

Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada jumpa pers di Istanbul, Turki (Reuters)

Turki dan Rusia telah menyiapkan perjanjian gencatan senjata untuk Suriah. Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, Rabu (28/12), dilansir dari Reuters.

"Terdapat dua naskah yang siap digunakan untuk solusi konflik Suriah. Satu tentang resolusi politik dan satu lagi tentang gencatan senjata. Dua naskah ini bisa diimplementasikan kapan saja", ujar Cavusoglu.

Namun, Turki juga mengatakan bahwa mereka tidak ingin pihak oposisi kembali berada di bawah kepemimpinan rezim Basyar al-Assad.

"Kita semua tahu bukan tidak mungkin ada transisi politik dari Assad. Dan kita semua tentu tahu bahwa mereka (pihak oposisi) sulit untuk bersatu dengan Assad", jelas Cavusoglu.

Seorang pejabat Turki mengatakan, diskusi selanjutnya akan membahas mengenai peran Assad di masa depan.

"Kami akan menekankan pentingnya transisi pemerintahan, dan itulah yang dituntut oleh warga Suriah. Ada atau tidaknya peran Assad dalam pemerintahan baru akan dibahas pada pertemuan mendatang", ujar sumber.

Menurutnya, Assad tidak akan hadir pada pertemuan di Astana, Kazakhstan.

Suriah mungkin dibagi menjadi 'zona-zona informal' berdasarkan kekuatan di wilayah, sementara Assad akan menjadi presiden untuk beberapa tahun ke depan.

Di lain pihak, Rusia ingin salah satu basis oposisi di dekat Damaskus dikecualikan dari perjanjian gencatan senjata, menurut seorang pejabat oposisi.

"Diskusi sedang berlangsung dengan dukungan dari Turki. Namun Rusia ingin Ghouta timur, yang berada di pinggiran Damaskus dikecualikan dari perjanjian gencatan senjata. Hal ini tidak akan diterima oleh faksi-faksi revolusi", ujar Munir al-Sayal dari kelompok Ahrar Syam.

Beberapa kelompok oposisi utama juga melakukan diskusi dengan Turki mengenai rancangan gencatan senjata yang telah disiapkan.

"Semua faksi setuju, pengecualian (gencatan) di daerah manapun adalah pengkhianatan terhadap revolusi", tambah Sayal.

Menurut Sayal, masih terlalu dini memikirkan keberhasilannya. Posisi Rusia pun belum jelas dan masih mendukung keinginan rezim Assad.

Ia juga berpendapat, pembicaraan akan sia-sia jika tidak membahas tentang mundurnya Assad dari jabatan presiden. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.