"Saya tidak bisa berharap dapat pulang selama rezim Assad masih berkuasa", kata pengungsi

Ambulans dan Bus untuk mengevakuasi warga dari timur Aleppo (Reuters)

Warga Suriah khawatir akan adanya penangkapan dan eksekusi pasca pengambilalihan Assad atas Aleppo. Hal itu juga menghancurkan harapan warga Aleppo agar dapat kembali ke rumah.

"Jika saya kembali, saya akan dieksekusi", ujar Abdulhamid Zughbi (30), yang telah mengungsi di awal tahun ini ke Turki untuk mendapatkan perawatan medis bagi istri dan bayinya.

"Saya tidak bisa berharap dapat pulang selama rezim Assad masih berkuasa. Hal itu sangat tidak mungkin bagi semua pihak oposisi", ujarnya.

Hampir 5 juta warga Suriah telah mengungsi ke luar negeri, akibat perang 6 tahun.

Banyak warga yang mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Lebanon dan Turki, juga Eropa. Turki sendiri menampung hampir 3 juta warga sipil Suriah.

Kepergian Zughbi juga nyaris permanen karena jalur akses ke wilayah tinggalnya telah tertutup.

"Istri saya terluka dan anak saya sakit, saya berpikir untuk membawa mereka ke Turki, lalu saya kembali, Tapi di hari itu, jalur tertutup sehingga saya tidak dapat kembali", tutur Zughbi, yang terlibat dalam aksi protes pada 2011 silam.

Kini, saat penduduk mulai meninggalkan timur Aleppo, tentara mulai melakukan screening atau penangkapan pada lelaki yang dicurigai sebagai aktivis.

"Penangkapan baru saja dimulai. Mereka langsung menahan orang-orang yang menonjol dalam oposisi (para aktivis). Tapi pada beberapa orang lainnya, rezim menyelidiki terlebih dahulu dan kemudian menangkap di tahap berikutnya", jelasnya.

"Seorang teman saya pergi ke daerah yang dikuasai pemerintah dan tiga hari kemudian mereka menahannya." jelas Zughbi.

Militer Suriah membantah adanya penagkapan, mengaklaim hanya memeriksa identitas orang yang mengungsi dan yang dianggap tidak dikenal akan dikirim ke dalam "tempat-tempat tertentu".

Tentara Assad juga ingin membuat rekrutan baru dari para pengungsi. Warga Suriah yang memenuhi syarat untuk dinas militer diminta "melayani negara".

Abu Rakan, (51) seorang pengungsi di Lebanon, yakin tentang bahaya yang mengintai pejuang oposisi. Saudara iparnya, yang seorang pejuang, telah meninggal dan istrinya hilang beberapa hari kemudian.

"Jika kami kembali, akan lebih berbahaya dari sebelumnya. Siapa pun yang berjuang memihak oposisi ada dalam bahaya", ia mengungkapkan kekhawatiran.

"Kami sudah tinggal dengan rezim ini selama 40 tahun. Kami tahu bagaimana mereka berperilaku, dan apa yang akan dilakukan (rezim)", katanya.

Abu Rakan mengatakan, ia hanya akan pulang jika terjadi "rekonsiliasi nasional", adanya pemilu yang bebas dengan presiden baru, serta perubahan konstitusi. Namun, hal tersebut pada saat ini terasa sangat jauh.

Hala (37), seorang aktivis yang meninggalkan area Assad, mengatakan, ia tidak percaya pada perjanjian apapun antara Assad dan oposisi. Satu-satunya cara adalah Assad harus turun.

"Tidak ada jalan bagi saya untuk pulang kecuali rezim Assad berakhir", ujarnya.

Meski keadaan terasa lebih baik dengan jadi pengungsi, namun mereka merasa tidak mendapatkan kepastian penghidupan dan masa depan.

"Tidak ada masa depan bagi saya di Lebanon. Saya bekerja secara ilegal karena sulit mendapatkan izin tinggal, dan saya tidak bisa mendapat asuransi kesehatan karena tidak terdaftar", kata Hala.

Menurut PBB 70% pengungsi di Lebanon hidup di bawah garis kemiskinan.

Hala sendiri masih berharap dapat kembali ke Suriah sehingga tak perlu baginya mencoba ke Eropa sebelum negara-negara di sana memperketat penerimaan pencari suaka.

Lain halnya dengan Zughbi, ia telah siap di pengungsian seumur hidup. Dimana ia harus berjuang mencari nafkah sebagai pekerja medis. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.