Perayaan pasukan rezim atas Aleppo dipandang sebagai bentuk kerendahan moral

foto : ilustrasi keadaan Suriah (Aljazeera).
Saat ini, seluruh kota Aleppo nyaris berada di bawah kontrol rezim Assad.

Sementara warga penentang rezim akan terus berjuang dengan cara yang berbeda pada masa mendatang.

Namun, ketidakpastian tentang masa depan itulah hal nyata yang ada di pelupuk mata Suriah.

Samer Abboud, seorang profesor studi internasional di Universitas Arcadia dan penulis tentang Suriah, memberikan gambaran singkat apa yang sedang terjadi dan perkiraan dampak di masa depan.

Dikutip dari AlJazeera.com, Abboud mengulas mengenai situasi Aleppo secara khusus dan Suriah secara umum.

Apakah ini akhir dari perang Suriah?
"Banyak pembela rezim menganggap, pengambilalihan Aleppo adalah akhir dari perang Suriah. Pihak lainnya berpendapat bahwa perang belum sepenuhnya berakhir.

Namun, ini mungkin sebuah "awal dari akhir".

Tidak ada perkiraan pasti saat ini, karena itu harus ditentukan keinginan politik semua pihak daripada sekedar asumsi atas yang telah terjadi.

Jika berasumsi bahwa (Aleppo) ini adalah akhir perang, maka semestinya tidak hanya pertempuran yang akan berhenti, tapi rezim akan mengontrol seluruh Suriah, menguatkan posisi di seluruh kota dan desa, mengendalikan kelompok bersenjata, dan terjadi proses rekonstruksi.

Namun kenyataannya, pertempuran terus berlangsung di seluruh negeri, bahkan di daerah yang dikendalikan rezim. Kekerasan dan ketidakamanan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan warga."

Bagaimana prospek untuk Solusi Politik?
"Rezim dan sekutunya telah menunjukkan keengganan mengakhiri konflik lewat proses perdamaian multilateral.

Multilateralisme dan keterlibatan internasional dirasa sangat tidak mungkin, apalagi rezim merasa di atas angin setelah berhasil menguasai Aleppo.

Sebaliknya, rezim dan sekutunya akan menggunakan gencatan senjata dan perjanjian lokal sebagai "mekanisme rekonsiliasi dan dialog", meski sesungguhnya itu cuma formalitas.

Perjanjian yang dilakukan itu hanya bertujuan untuk mengeluarkan pejuang dan warga dari wilayah yang dikepungnya (sehingga bisa dikuasai). Ini merupakan situasi dimana "politik perdamaian" dipaksakan, bukan dinegosiasikan.

Peristiwa di Aleppo telah membuktikan bahwa rezim lebih mengandalkan solusi militer (untuk memaksakan tujuannya).

Sebuah pemikiran pendek dan merusak. Komitmen serius mengenai solusi politik sepertinya tidak akan muncul."

Apakah kekerasan akan berkurang?
"Kekerasan yang diderita Aleppo tidak mungkin mereda dalam waktu dekat, sebaliknya, hanya akan berpindah ke daerah lain.

Pertama, wilayah-wilayah oposisi masih ada di sekitarnya dan rezim tidak mungkin menghentikan serangan.

Seperti di wilayah kepungan Hama dan Homs, dimana kekerasan terus membayangi di wilayah pinggiran (yang dikuasai oposisi).

Kedua, wilayah oposisi yang lebih besar seperti Idlib, Ghouta timur, dan utara Hama, masih terus bertahan. Dan kemungkinan akan ditargetkan segera oleh militer rezim.

Dengan keberhasilan di Aleppo, rasa menang masih ada diantara pasukan rezim. Sehingga sepertinya kekerasan akan masuk ke wilayah-wilayah lain dan dirasakan penduduknya.

Gempuran darat atau serangan udara yang dilakukan, menunjukan kekerasan akan berlanjut lewat cara dan di tempat yang berbeda-beda.

Warga Suriah belum akan lepas dari horor itu, seperti yang terjadi sebelumnya dialami Aleppo timur dalam pengepungan mematikan.

Selain itu, direbutnya Palmyra oleh ISIS juga berpengaruh terhadap pandangan internasional."

Siapa yang berkuasa di Suriah?
Rezim tidak hanya memiliki dukungan udara Rusia, tapi juga dukungan pasukan darat dari berbagai milisi (Syi'ah, Syabihah dll).

Milisi itu tidak berada di bawah komando pusat, mereka dibiarkan menentukan sendiri tindakannya dalam menunjukan loyalitas pada rezim.

Yang populer diantara milisi itu adalah mereka bertempur berlandaskan ideologi dan pandangan politik. Namun, terdapat motif-motif lain, seperti masalah ekonomi (uang) yang membuat terlibat perang.

Mereka berada di luar kendali pusat dan sering beroperasi secara independen. Karena saling mengontrol beberapa wilayah, konflik antar-milisi juga kerap terjadi.

Sementara itu, rezim Assad dan pendukungnya menggunakan keadaan itu sebagai cara untuk mempertanyakan komitmen mereka di seluruh Suriah.

Hadirnya milisi asing dan berbagai kepentingan membuat konflik semakin parah, bukan menyelesaikannya.

Apakah Assad telah memenangkan perang?
Pengendalian Aleppo oleh pasukan rezim tidak akan mengakhiri kekerasan.

"Selebrasi" atas Aleppo hanya menunjukkan kerendahan moral atau kebangkrutan cara berpolitik, dengan mengabaikan kekerasan dan kehancuran yang terus beranjut.

Jadi, bagi mereka tidak ada cara merasakan kemenangan, kecuali lewat hasil pertempuran.

Tapi tentunya, tidak ada yang bisa mengklaim kemenangan di atas penderitaan manusia dan kekerasan yang mengerikan.

Mereka yang merayakan kemenangan di Aleppo kurang memahami konflik yang terjadi.

Realita yang terjadi jauh lebih kompleks. Kemenangan semu hanya akan membawa perang lebih besar. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.