"Aku merasa ini adalah sebuah akhir", ujar Reem, seorang ibu yang memiliki dua anak

Seorang warga Aleppo membawa istrinya dalam kondisi mengenaskan

Warga Aleppo yang terkepung berada dalam kondisi berbahaya, tragis, dan ketakutan.

Pasukan rezim yang menyerang wilayah Kota Tua Aleppo membuat warga berada dalam kondisi yang sulit.

"Aku merasa ini adalah sebuah akhir", ujar Reem, seorang ibu yang memiliki dua anak.

"Kami telah berpikir kami akan mati, entah karena bom Birmil atau hal lainnya. Namun kini kami khawatir jika pasukan (Assad) datang sewaktu-waktu dan menangkap suami saya", jelasnya.

Udara dingin dan kurangnya air membuat dua anaknya jatuh sakit. Mereka harus bertahan dengan jatah makan sehari satu kali.

Warga Aleppo dihadapkan pada pilihan sulit saat pasukan rezim Assad meraih kemajuan pesat.

Lelaki dewasa dapat ditangkap sewaktu-waktu karena tuduhan "mengikuti pemberontakan".

Mereka khawatir akan nasibnya jika hanya berdiam diri atau pindah ke area kekuasaan Assad. Namun, wilayah oposisi pun semakin menyusut.

Apapun yang dilakukan warga, kemungkinan mereka terbunuh makin bertambah tiap hari.

"Kami ingin mengungsi ke Idlib atau Jarablus", ujar seorang warga bernama Abu Youssef (34), merujuk pada dua area yang masih berada dalam kekuasaan oposisi.

"Tapi tidak ada jalan keluar. Penyerangan terus dilakukan ... Kami sangat takut, kami mendengar bahwa pasukan menangkap semua pemuda yang mereka temui", tuturnya.

Militer Assad menyangkal adanya penangkapan, mereka beralasan hanya memeriksa identitas orang orang yang meninggalkan wilayah oposisi. Yang dianggap tidak dikenal akan dibawa ke "tempat khusus".

Pasukan Assad memasuki Kota Tua pada Rabu (7/12). Mereka tidak menerima usulan gencatan senjata dengan oposisi.

Assad dan sekutu Rusianya ingin oposisi keluar dari wilayah itu tanpa persenjataan.

Banyak orang yang telah meninggalkan wilayah oposisi, dan berharap dapat meninggalkan Aleppo sebelum pasukan rezim datang.

Dimana serangan udara dan pemboman terus terjadi di sekitar mereka.

"Kami harus bergerak selama tiga kali dalam seminggu", ujar Abu Mahmoud (25). Saat ini mereka tinggal berdesakan di rumah-rumah yang ditelantarkan. Jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 20.000 jiwa.

Penyerangan yang datang secara intens bahkan membuat warga tidak dapat mencari makanan. Roti hanya didistribusikan kadang-kadang.

"Kami tidak dapat mencari sendiri keluar karena banyak serangan", ujar Youssef. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.