Assad mendeklarasikan kemenangan, yang ditanggapi sisa kekuatan oposisi dengan perlawanan sampai akhir meski hanya tersisa satu jengkal

Kondisi memilukan warga Aleppo
Desember 2016 menjadi titik balik kemenangan rezim Assad atas kota Aleppo timur yang sejak 2011 dikuasai pendukung oposisi.

Dengan dukungan hujan bom jet tempur Rusia dan belasan ribu milisi Syi'ah, gempuran yang ditambah pengepungan telah merebut lebih 90% daerah itu dari pejuang Sunni.

Namun, kelompok oposisi bukan tanpa perlawanan. Mereka bersumpah akan terus bertahan meski tanahnya hanya tersisa sejengkal saja.

Sementara dunia internasional berupaya merundingan evakuasi penduduk sipil maupun kombatan, dengan terus melakukan lobi kepada Rusia.

Drama panjang berdarah ini membuat air mata kaum Muslimin dunia membanjir.

Tetapi sejatinya Aleppo merupakan tempatnya orang-orang yang bertahan atas penderitaan berat dalam melakukan perlawanan terhadap rezim Basyar al-Assad.

Inilah kronologi perlawanan para pejuang kebebasan di Aleppo:

2011: KEKERASAN MELETUS DI SURIAH SETELAH TENTARA ASSAD MENYERANG WARGA DALAM AKSI DEMO DAMAI
Pada Maret 2011, demonstrasi massa terjadi di ibukota Suriah, Damaskus, yang menuntut reformasi politik, hak-hak sipil dan pembebasan tahanan politik. Aksi ini segera menyebar ke kota-kota lain seperti Aleppo.

Suriah selama puluhan tahun dikuasai oleh partai Ba'ats yang digunakan oleh keluarga Assad melalui dominasi minoritas sekte Alawite.

Tetapi kekerasan dilakukan oleh pihak keamanan terhadap warga sipil di berbagai penjuru negeri. Assad menuduh ketidakstabilan negerinya adalah "setting-an asing", dan terus membantah adanya pembunuhan massal.

2012: PIHAK OPOSISI MENGAMBIL ALIH SEBAGIAN ALEPPO
Pada awal 2012, pihak oposisi menguasai daerah pinggiran di barat laut Aleppo, serta berhasil mengepung pangkalan udara militer Minnegh dan kota-kota Syi'ah seperti Nubl dan Zahra.

Pada Juli 2012, beberapa warga pengunjuk rasa di Aleppo ditembaki, sehingga pihak oposisi mulai berjuang untuk merebut kota itu. Daerah timur yang cenderung lebih miskin dan didominasi Muslim Sunni dengan cepat jatuh ke tangan oposisi. Pertempuran di Kota Tua Aleppo membuat banyak situs bersejarah mengalami kerusakan.

2013: OPOSISI MENGUASAI JALUR MENUJU ALEPPO
Pejuang oposisi berhasil memotong jalan raya utama dari Aleppo ke daerah-daerah di selatan. Hal ini memaksa rezim Assad menggunakan rute alternatif yang lebih jauh agar mencapai kota tersebut dari ibukota Damaskus.

Wilayah barat kota yang dikuasai Assad hampir berstatus terkepung karena oposisi juga berhasil memotong rute alternatif yang dibuat itu. Namun, pada Oktober Assad dan sekutunya berhasil merebutnya kembali, hingga terus memperkuat posisi mereka.

Pada bulan April, menara berusia 1.000 tahun dari Masjid Umayyah Aleppo runtuh terkena serangan dalam pertempuran.

Tahun ini juga adalah awal ISIS menunjukkan eksistensinya di kota dan sekitarnya. Namun, konflik besar dengan oposisi dan jihadis (Jabhah Nushrah), membuat kelompok teroris ini diusir dan memperkuat diri di pinggiran timur provinsi.

2014: TARIK ULUR POSISI DI ALEPPO
Pemerintah Assad mulai menggunakan serangan udara dengan jet dan helikopter untuk menyerang oposisi secara masif. Meski kurang berdampak secara militer, karena serangan yang dilakukan memiliki presisi rendah dan hanya menimbulkan kerusakan sipil.

2015: KEMAJUAN OPOSISI DAN INTERVENSI RUSIA
Tahun ini jadi tahun pesta kemenangan pejuang Sunni. Direbutnya kota Idlib dan sekitarnya merupakan pukulan besar terhadap pasukan rezim dan milisi Syi'ah.

Serangkaian kemenangan yang didapat oleh oposisi dalam payung 'Jaisyul Fath' membuat Damaskus berada di bawah tekanan. Moral tempur pasukannya hampir hancur. Termasuk di wilayah provinsi Aleppo.

Namun pada akhir September, Vladimir Putin mengumumkan intervensi militer di Suriah atas undangan Assad, dengan alasan memerangi "kelompok teroris dan ISIS".

Bulan Oktober, serangan udara Rusia mulai terdeteksi menghujani langit di kota Aleppo timur dan utara. Membuat oposisi mulai memiliki kemunduran. Strategi Rusia sederhana, menahan serangan daratnya, tapi suatu wilayah yang dikuasai pejuang akan terus dibombardir.

Setelah oposisi memilih mundur dari bombardir, barulah pasukan Assad segera mengambil tanah yang ditinggalkan.

2016: PENGEPUNGAN DAN PEMBOMAN ALEPPO TIMUR
Pada Februari, tentara rezim dan sekutu berhasil memotong jalan jalur persediaan oposisi dari Turki ke Aleppo timur. Merebut kembali pangkalan udara Minnegh, sehingga menembus pengepungan atas kota Syi'ah Nubl dan Zahra.

Ini juga merusak jalur suplai oposisi dari arah utara di kota Azaz (perbatasan Turki). Sehingga kini suplai harus melalui pintu perbatasan di provinsi Idlib.

Pada 27 Juli, pasukan Assad sukses mengepung seluruh Aleppo timur saat merebut jalur suplai tunggal di jalan Castello. Tetapi segera dibongkar oleh pejuang dari Idlib 10 hari kemudian, karena serangan balik Jaisyul Fath di distrik Ramousah..

Strategi klasik serangan udara Rusia dan ribuan milisi Syi'ah impor dari Irak/Lebanon/Iran/Afghanistan membantu tentara rezim merebut kembali akademi altileri di Ramousah, 8 September.

Lalu mulai 22 September, serangan udara berat menghantam Aleppo timur.

Setelah berminggu-minggu mengalami pemboman intens, serta hancurnya rumah sakit dan infrastruktur sipil lainnya, pemerintah Rusia dan Suriah menyatakan jeda penyerangan pada 18 Oktober. Mereka mendesak oposisi dan warga sipil keluar dari Aleppo. Sesuatu yang dipandang sebagai pembersihan etnis atau pengusiran.

Serangan oposisi untuk memecahkan pengepungan dimulai pada 28 Oktober, bergerak dari pinggiran hingga ke wilayah barat kota.

Namun, setelah membuat beberapa kemajuan pada dua hari pertama, oposisi gagal membuka jalur suplai lewat wilayah padat di barat kota. Mereka segera menarik mundur pasukan di tengan gempuran udara Rusia dan mobilisasi milisi Syi'ah

Serangan udara intensif berlanjut di Aleppo timur pada 15 November. Akibatnya, semua rumah sakit dibuat tidak berfungsi pada 19 November.

28 November, pasukan pro-Assad mengambil alih bagian utara wilayah oposisi lewat serangan tiba-tiba, sehingga wilayah oposisi berkurang lebih dari sepertiganya.

Serangan lain terjadi pada 5 dan 6 Desember, membuat al-Shaar dan Kota Tua Aleppo berada di bawah kekuasaan tentara Assad dan sekutu.

Oposisi terjebak dalam wilayah kecil di selatan.

Pada 12 Desember, tentara membuat serangkaian kemajuan baru dengan mengambil distrik Sheikh Said. Lebih dari 90% Aleppo timur telah diduduki rezim. Ratusan ditangkap dan sebanyak 79 orang dieksekusi pasukan Assad.

Rezim mendeklarasikan kemenangan, yang ditanggapi sisa kekuatan oposisi dengan janji perlawanan sampai akhir meski hanya tersisa satu jengkal pijakan di kota bersejarah itu. (Reuters/rslh)




Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.