Presiden Jammeh sebelumnya menetapkan Gambia sebagai Republik Islam, belum diketahui status itu jika pemerintahan baru berjalan

kegembiraan warga Gambia untuk merayakan kemenangan Barrow, menghidupkan kota yang selama ini cukup senyap (2/12/2016, Reuters)

Kegembiraan muncul di Gambia setelah Adama Barrow terpilih menjadi presiden melalui pemilu pada Kamis (1/12). Barrow menggantikan Yahya Jammeh yang telah memerintah selama 22 tahun.

"Kami akhirnya bebas. Kami tidak akan menjadi budak lagi", seru warga Gambia anti Jammeh di jalanan, dengan membawa bendera partai oposisi.

Sebelumnya, Jammeh sering mengatakan bahwa dirinya akan terus memerintah Gambia. Ia bersumpah akan memimpin selama "sejuta tahun".

"Kepemimpinan dan kekuatan berada di tangan Allah, dan hanya Allah yang dapat mengambilnya dari saya", ucap Jammeh minggu ini.

Namun, pemilu berlangsung damai dan Jammeh mengakui kekalahannya.

"Jika Barrow ingin bekerja sama, saya tidak ada masalah dengan hal itu. Saya akan membantunya dalam masa transisi", ucap Jammeh dalam sebuah wawancara radio.

Jammeh sebelumnya menetapkan Gambia sebagai Republik Islam, belum diketahui status negara itu selanjutnya jika pemerintahan baru mulai berjalan.

Penyerahan kekuasaan yang berlangsung damai diharapkan menjadi contoh bagi negara Afrika lainnya.

"Kepala negara di Afrika perlu mengambil contoh dari Jammeh yang mundur secara terhormat", ucap Lamin Joof, salah seorang warga Gambia.

Menurut Reuters, pemimpin di Afrika masih banyak yang melakukan kecurangan dalam pemilu dan mengakali konstitusi untuk mempertahankan masa jabatan mereka.

Barrow merupakan pengembang real estate yang pernah bekerja sebagai penjaga keamanan di London. Ia memenangkan 45.5% suara, mengalah Jammeh yang mendapat 36.7% suara.

Entah bagaimana, Barrow dapat menyatukan partai oposisi untuk kemajuan. Ia berjanji untuk menghidupkan kembali perekonomian, salah satu performa terburuk di negara itu yang menyebabkan banyak warga mengungsi ke Eropa.

Ia juga berjanji menghentikan pelanggaran HAM serta akan turun jabatan setelah tiga tahun untuk menghidupkan demokrasi.

Pada masa kepemimpinan Jammeh, ratusan warga ditahan dengan tuduhan menjadi penyihir, dan menghukum kaum homoseksual dengan pemenggalan kepala.

Pada April lalu, muncul aksi protes di Banjul, Gambia, yang menyebabkan puluhan orang ditahan, termasuk pemimpin partai oposisi UDP Ousainu Darboe. Dua anggota partai lainnya meninggal dalam tahanan.

"Kami ingin ia menghadapi pengadilan .. banyak orang telah meninggal dan banyak dari kami tidak tahu keberadaan anggota keluarga kami", ucap salah seorang oposisi, Diab.

Gambia merupakan negara di Barat Afrika yang memiliki populasi sekitar 1,8 juta jiwa, dengan mayoritas Muslim Sunni. Pantai indah yang mereka miliki menjadi salah satu daya tarik turis mancanegara. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.