Bahrun sendiri dikabarkan menganjurkan serangan ISISers pada "thoghut" di negaranya masing-masing

Divisi Humas Mabes Polri
Bahrun Naim, dalang bom Thamrin pada Januari 2016 disebut masih mengaktifkan jaringan sel teroris di Indonesia.

Menurut polisi, jaringannya merekrut keempat terduga teroris yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat dan Karanganyar, Jawa Tengah, yang berencana melakukan aksi teror di Istana Merdeka, Jakarta, yang digagalkan kemarin.

Bahrun sendiri dikabarkan menganjurkan amaliyah atau seruan mengadakan serangan pada "thoghut" di negaranya masing-masing, jika belum bisa berhijrah ke wilayah ISIS.

"BN telah merekrut dan membuat sel-sel kecil. Kita harus waspada jangan sampai mereka berkembang di Indonesia. Maka Densus 88 melakukan penindakan di lapangan", kata Kepala Bagian Mitra Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono, kepada wartawan, Minggu (11/12), dikutip CNN Indonesia.

Bahrun Naim, menurut Awi berkomunikasi dengan keempat orang itu melalui aplikasi telegram.

Orang-orang yang direkrut Bahrun sudah siap mati karena ditengarai memiliki bibit-bibit pemahaman takfiri.

Keempatnya belajar agama dengan mengikuti pengajian-pengajian dan mendengarkan ceramah.

"Seperti NS (Nur Solihin) ini sejak tahun 2000-an sudah keliling mencari jati diri, termasuk sudah pernah ikut kelompok ormas tertentu, kami tidak bisa sebutkan namanya. Lalu ia bergabung dengan Jamaah Anshorut Khilafah Daulah Nusantara (jaringan di bawah kendali Bahrun Naim)", kata Awi.

NS adalah satu dari tiga terduga teroris yang ditangkap Densus 88 di sebuah indekos di Bintara, Bekasi, Jawa Barat.

Selain Solihin, mereka yang ditangkap di Bekasi adalah Agus Supriyadi dan Dian Yulia Novi. Seorang terduga lain ditangkap di Karanganyar, berinisial SY atau Abu Izzah.

Polisi menemukan barang bukti berupa bom rakitan berbentuk penanak nasi elektronik (rice cooker) di kamar 104, rumah tiga lantai itu.

Tim Gegana Polda Metro Jaya meledakkan satu dari tiga bom aktif yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) pada Sabtu malam.

Bom tersebut diledakkan pukul 19:20 WIB dengan menggunakan sebuah tabung pengaman yang terpasang di mobil Tim Gegana.

Opini publik
Ada dua opini publik di kalangan Islamis terkait kasus bom panci di Bekasi. Seperti Risalah telusuri dari akun-akun aktivis Islam dan kalangan jihadis.

Pertama, seperti yang sudah lama populer, diyakini ada konspirator yang memunculkan kasus teroris saat publik tertuju pada kasus populer sebelumnya.

Mereka yang percaya hal ini mencela kaum takfiri (ekstremis pengikut ISIS), sebagai orang-orang rusak yang mudah dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab.

Kedua, pandangan bahwa ancaman paham ekstremis itu nyata keberadaannya. Orang-orang berpaham takfiri atau yang mudah memvonis "thoghut", mengkafirkan dan menghalalkan darah, memang ada.

Namun, isu terorisme di dunia ini terlalu seksi untuk langsung dituntaskan. (CNN Indonesia./rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.