Januari dinamai berdasarkan salah satu dewa Romawi bernama Janus, yang dipercaya sebagai lambang pergantian dan awal mula

Gbr Ilustrasi dewa-dewa masyarakat kuno

Momen pergantian tahun baru kerap dirayakan oleh berbagai lapisan masyarakat di penjuru dunia.

Menurut situs ancient-origins.net, perayaan seperti ini telah ada sejak masa awal peradaban.

Jika saat ini dilakukan pesta pora dan kemeriahan, pada zaman dahulu pergantian tahun lebih dikenal sebagai penanda musim panen atau kejadian astronomis.

Tidak semua tempat merayakan tahun baru pada 1 Januari, beberapa budaya memiliki penghitungan tersendiri menandai pergantian tahun.

Masyarakat Mesir misalnya, menandai tahun baru dengan banjir tahunan di sungai Nil, yang juga bertepatan dengan muculnya bintang Sirius.

Orang-orang Fenisia dan Persia percaya pergantian tahun dimulai pada awal musim semi.

Budaya Yunani biasa merayakan tahun baru saat titik balik matahari di musim dingin, sedangkan orang China percaya hari pertama sebuah tahun dimulai pada bulan kedua setelah titik balik matahari musim dingin.

Berikut beberapa sejarah lainnya mengenai awal mula perayaan tahun baru:

1. Perayaan Akitu di Babilonia
Sejarah perayaan tahun baru yang paling tua mungkin berasal dari peradaban Babilonia, sekitar 4.000 tahun yang lalu. Orang-orang Babilonia merayakan tahun baru sebagai bagian dari acara keagamaan atau mitologi.

Tahun baru ditandai dengan munculnya bulan baru awal musim semi, yang juga dipercaya sebagai hari lahir bagi bumi.

Mereka merayakan momen ini dengan fetival keagamaan yang sangat besar bernama Akitu. Akitu diambil dari bahasa Sumeria yang berarti Jelai, sejenis makanan musim semi.

Akitu berlangsung selama 11 hari, dengan perayaan yang berbeda di tiap harinya. Patung dewa diarak keliling kota dan banyak ritual dilakukan sebagai penanda kemenangan.

Orang Babilonia percaya, di tahun baru para dewa sedang membersihkan bumi dan membentuknya kembali untuk menghandirkan musim semi.

Mitos tentang kemenangan dewa langit Marduk juga ikut dirayakan saat Akitu. Masyarakat percaya Marduk meraih kemenangan atas dewa laut jahat bernama Tiamat.

Satu aspek menarik lainnya dalam Akitu adalah kebiasaan aneh menyiksa raja. Raja Babilonia biasanya diarak di depan patung Marduk.

Pakaiannya dilucuti, ia ditampar ataupun diseret dengan telinganya, hingga raja menangis. Jika air mata raja jatuh, konon Marduk telah dipuaskan.

2. Perayaan Janus pada Masyarakat Roma Kuno
Tahun baru Romawi awalnya pun dimulai di permulaan musim semi. Kalender awal Romawi memuat 304 hari yang dibagi dalam 10 bulan.

Menurut cerita tradisi, penanggalan ini dibuat oleh Romulus, sang pendiri Roma di abad 8 SM.

Namun, pada abad-abad selanjutnya, penanggalan kalender mulai disesuaikan dengan peredaran matahari.

Pada 46 SM, Julius Caesar berkonsultasi dengan ahli matematika dan astronomi terbaik di masanya, dan membuat kalender baru versi Julius. Kalender inilah yang saat ini banyak digunakan di berbagai negara.

Sebagai bagian dari reformasi yang dibuat, Julius menetapkan Januari sebagai pergantian tahun.

Januari dinamai berdasarkan salah satu dewa Romawi bernama Janus, yang dipercaya sebagai lambang pergantian dan awal mula.

Janus digambarkan memiliki dua muka yang dapat melihat ke masa lalu dan masa depan.

Orang Roma merayakan tahun baru dengan memberikan persembahan bagi dewa Janus, serta berdoa untuk keberuntungan di tahun baru.

Mereka menghias rumah dengan dahan dari pohon Laurel dan menghadiri pesta meriah.

Para tetangga saling memberi hadiah berupa buah ara atau madu, sebagai penanda awal mula hubungan yang baik.

3. Dihapusnya 1 Januari pada abad pertengahan di Eropa
Pada abad pertengahan di Eropa, agama Kristen sedang mendominasi. Perayaan tahun baru dianggap sebagai ritual pagan sehingga di tahun 567, dewan menghapus anggapan 1 Januari sebagai tahun baru.

Sebagai gantinya, mereka menghadirkan perayaan-perayaan yang lebih bersifat Kekristenan, seperti Natal 25 Desember dan perayaan Festival Isyarat 25 Maret, yang juga dikenal sebagai Hari Perempuan.

Namun, 1 Januari juga memiliki hubungan dengan Kristen yang dikenal sebagai hari “Perayaan Khitan”, karena keyakinan bertepatan dengan hari kedelapan setelah Yesus dilahirkan.

Hal ini diambil dari kebiasaan orang Yahudi, dimana bayi yang baru lahir di khitan dan dan diberi nama pada hari ke delapan.

Namun, tanggal lahir Yesus pada 25 Desember masih diperdebatkan.
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.