Mer-C pernah masuk ke wilayah Kandahar, Afghanistan, yang dikuasai Taliban dan militan al-Qaeda

Dokter Yuzrizal Jurnalis dalam aktivitas kemanusiaannya
Baru-baru ini kegiatan penyaluran bantuan kaum Muslimin Indonesia ke Suriah jadi sorotan.

Pasalnya, sebuah kardus IHR tertangkap video ada di markas kelompok oposisi Jaisyul Islam. Belum ada yang tahu sebabnya, entah ada oknum milisi yang menyelewengkan atau karena alasan lain. Yang jelas, dalam penyaluran itu IHR menggandeng IHH Turki.

Tapi sepotong gambar itu jadi rumit, terutama oleh penganut Syi'ah dan pendukung Assad yang selalu menyalahkan bantuan kemanusiaan Indonesia ke wilayah oposisi.

Mereka beranggapan semua bantuan ke Suriah itu "ilegal", karena tidak minta izin pada rezim Damaskus.

Bahkan, langsung dituduhkan bahwa bantuan-bantuan itu tidak sampai pada yang berhak, melainkan ditujukan pada kelompok "pemberontak" dan "teroris", atau "dimakan" oleh pendiri lembaga.

Kesimpulan tendensius dan ad hominem kerap ditemukan di media sosial untuk menyudutkan lembaga-lembaga yang tidak disukai para pendukung Assad.

Isu Suriah memang sensitif, karena di sana terdapat kelompok ultra ekstrimis ISIS, pelaku teror nyata seluruh dunia.

Ditambah lagi rumitnya peta konflik, permusuhan ideologi dengan Syi'ah, hingga teori konspirasi yang dibuat untuk mengaburkan.

Bagi orang awam yang masih rabun terkait Suriah, pasti sangat mudah menyimpulkan bahwa:

Kegiatan kemanusiaan Suriah (wilayah oposisi) --> terkait kelompok bersenjata atau teroris

Bukan masalah baru
Sejatinya, beroperasinya NGO Indonesia di wilayah negara asing yang dikontrol kelompok Belligerents, bukanlah barang baru.

Lembaga kemanusiaan Mer-C Indonesia pernah menembus Kandahar ketika masih dikuasai oleh Taliban.

Kembali ke tahun 2001. Presiden AS, George W Bush memutuskan menyerang Afghanistan yang kala itu secara de facto dikuasai oleh faksi Taliban.

Bush menuduh pemerintah Taliban adalah sponsor teroris dengan menyembunyikan Osama bin Laden, pemimpin al-Qaeda. Kelompok militan yang dipersalahkan sebagai pelaku serangan mematikan 11 September.

Taliban sendiri berkuasa setelah menjungkalkan pemerintahan Islamic State of Afghanistan pimpinan Burhanuddin Rabbani yang diakui internasional.

Taliban (didominasi etnis Pashtun), merebut ibukota dan mendirikan Imarah Islam Afghanistan pada tahun 1996. Namun kekuasaan de facto itu tidak diakui oleh internasional sebagai pemerintah sah.

Hanya Pakistan, Arab Saudi dan UEA yang mengakui Taliban.

Sedangkan entitas Islamic State of Afghanistan tersingkir ke utara, sisa kekuatan mereka membentuk United Islamic Front for the Salvation of Afghanistan, atau dikenal sebagai Aliansi Utara. Merekalah yang diakui PBB.

Sejak lama, Taliban disebut memiliki kerja sama khusus dengan al-Qaeda, kelompok "jihadis" internasional pimpinan Osama bin Laden.

Tokoh al-Qaeda memang membai'at Mullah Omar, pendiri Taliban.

Singkat kata, AS menyerbu Afghanistan untuk menjungkalkan Taliban dari kota-kota utama. Pengeboman masif dengan pesawat-pesawat canggih menghantam kantong-kantong mereka.

Pasukan AS dan sekutu, dibantu milisi anti Taliban (termasuk Aliansi Utara), dengan cepat menguasai sejumlah kota.

Kabul, Herat dan Mazar-i-Sharif telah diambil alih setelah Taliban memilih menarik diri agar kota tidak terus dibom.

Giliran Kandahar yang menjadi target, kota terbesar kedua di Afghanistan itu memang basis Taliban. Provinsinya juga berbatasan dengan Pakistan, sedikit negara yang "mesra" dan mengakui Taliban.

Pada masa inilah, Mer-C berangkat ke Pakistan, misinya adalah menembus Kandahar, garis depan serangan AS di kota besar terakhir Taliban.

Menurut salah satu relawannya, tim mereka rencananya diterjunkan langsung ke garis depan "untuk memberikan pertolongan medis terhadap para pejuang Taliban yang terluka".

Seperti diungkapkan dokter Dhani Kurniadi di Jakarta, kepada Liputan6, Oktober 2001.

Menurut Dhani, pengiriman tim medis ke medan tempur Afghanistan sebagai bentuk simpati pada Afghanistan yang sedang digempur oleh Amerika Serikat beserta sekutunya.

Untuk langkah awal ketika itu, Mer-C memberangkatkan tujuh dokter dan satu paramedis.

Ketua presidium Mer-C, dokter Jose Rizal Jurnalis, mengaku tidak memihak dalam konflik. Mereka akan bertugas menolong korban perang tanpa pandang bulu, baik tentara AS maupun Taliban.

Selain itu, tim itu akan bekerja sama dengan berbagai kalangan yang berkomitmen serupa soal kemanusiaan.

Saat mempersiapkan pemberangkatan tim medis, Jose mengupayakan berbagai kontak dengan beberapa rekan di Pakistan dan Afghanistan. Terutama izin akses masuk ke sejumlah medan pertempuran, dari 2 pihak.

Mimpi Mer-C terwujud, Jose dan tim berangkat ke Pakistan. Mereka membangun jaringan, menyiapkan izin hingga bertemu dengan dubes Taliban.

Di Rawalpindi, Pakistan, Jose dkk bertemu dengan dubes Taliban untuk dibuatkan surat rekomendasi bagi Mer-C agar dapat masuk ke Afghanistan.

Senin (5/11/2001), Mer-C bertemu dengan Deputi Duta Besar Taliban di Pakistan Moh. Suhail Shahnen.

Dalam pertemuan itu, Mer-C menyampaikan maksudnya membantu masyarakat Afghanistan untuk mengusahakan mobile operating theatre (kerja sama dengan PIMA-Pakistan Islamic Medical Association), mobil ambulance, dan bekerja di kamp pengungsi.

Termasuk meminta izin pindah lokasi dari satu kota ke kota atau desa ke desa lain, sesuai tuntutan kebutuhan medis.

Deputi Dubes Taliban menyambut gembira melihat besarnya perhatian masyarakat dan pemerintah Indonesia terhadap rakyat Afghanistan. (Sumber)

Mer-C di tanah Taliban
Banyak cerita yang dialami Mer-C ketika menjalankan misi di sisa-sisa daerah Taliban.

Dalam sebuah wawancara dengan Tempo, Jose mengungkapkan kisah ketika berada jantung Taliban itu.

Ketika timnya hendak masuk ke sebuah kota di selatan Afghanistan, kota itu mendapat hujan bom.

Ia kemudian berdialog dengan pihak Taliban agar mengeluarkan tim dokter dari kota tersebut demi keselamatan bersama. Namun permintaan itu ditolak.

“Jangan dok, masyarakat sudah tahu dokter mau datang. Nanti, kami tidak bisa mengatasi kekecewaan mereka”, Jose menirukan jawaban tentara Taliban.

“Saat-saat seperti itu yang membuat para dokter ini merasa pentingnya kehadiran mereka”, kenangnya.

Meski mengaku tak memihak, Jose punya penilaian positif sendiri pada Taliban, tentang kelompok yang dituduh terkait terorisme oleh Barat (saat itu).

"Jujur saja saya sangat kagum kepada orang-orang Afghan. Mereka tawakal dan hanya bergantung pada Allah. Mereka miskin, susah, punya alam gersang yang dibom setiap hari. Banyak ulama dan pemimpin Taliban yang zuhud dan hidup bersahaja.

Bertemu dengan mereka sangat menenteramkan batin. Ada ketenangan di tengah hujan bom dari pesawat tempur AS. Memang banyak komentar yang nadanya tidak mendukung langkah kami. Misalnya ngapain mesti ke sana sementara di sini banyak yang mesti ditolong.

Namun saya berpendapat tidak perlu menunggu turunnya fatwa ulama yang menyatakan berangkat ke Afghanistan. Ini fardhu'ain atau fardhu kifayah" (sumber)

Kini, Jose dan Taliban punya posisi berbeda. Talliban mendukung 'jihad Suriah'. Sementara Jose adalah pengikut teori konspirasi politik dan pendukung Basyar al-Assad.

Lembaga Kemanusiaan Suriah dan kelompok oposisi
Berbeda dengan Mer-C di wilayah Taliban yang kala itu direspon positif. Saat ini, kegiatan serupa di wilayah oposisi Suriah masih menjadi pro kontra.

Bagi para pendukung Assad, gambaran misi medis dan kemanusiaan di daerah FSA adalah sesuatu yang buruk, melanggar hukum dan digambarkan "menakutkan".

Kelompok-kelompok bersenjata seperti Jaisyul Islam, Ahrar Syam, Jaisyul Fath, Jabhah Syamiyah diasosiasikan berbahaya atau dipersalahkan sebagai "penjahat dan pengacau di Suriah".

Adapun bencana kemanusiaan di daerah oposisi, dengan framing tertentu, dinyatakan tidak pernah ada. Serangan udara brutal rezim Assad maupun Rusia selalu ditolak pernah terjadi.

Pelanggaran HAM rezim disebut sebagai "rekayasa Barat", pokoknya Assad adalah jagoan, sementara semua lawannya adalah "teroris".

Lembaga kemanusiaan yang menggalang dana bantuan Suriah pun kerap dituduh "tidak netral", "memakan sumbangan", "penipu" atau "tidak amanah".

Lewat propaganda dari sumber tak jelas, pendukung Assad di Indonesia dikenal tidak konsisten. Mereka melupakan bahwa misi serupa yang pernah terjadi di masa lalu.

Jika dahulu Mer-C membaur di daerah Taliban, kelompok belligerent (non-state), penguasa de facto. Maka kini berbagai lembaga Muslim di Indonesia aktif di daerah FSA atau Jaisyul Islam. Kelompok oposisi diakui yang pernah berunding dengan rezim berkuasa.

Jika dulu Mer-C beroperasi di Kandahar, satu tempat dimana Taliban dituduh "melindungi" al-Qaeda. Maka kini di wilayah oposisi Suriah ada overlap wilayah dengan kelompok Jihadis.

Tapi semua sudah berubah, Mer-C kini diisi oleh orang-orang yang mendukung Assad.

Padahal dalam hukum internasional, NGO tidak bisa disalahkan jika benar-benar melakukan misi kemanusiaan, non kombatan.

Bahkan relawan Suriah termasuk garda terdepan yang membantah propaganda ISIS.

Atas klaim bahwa ISIS adalah "khilafah", bahwa umat Islam harus membaiat al-Baghdadi dan "berhijrah".

Relawan Indonesia yang berada di Suriah lebih dulu mengungkap kejahatan ISIS dan propagandanya.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.