Diperkirakan 30.000 warga Rohingya telah terusir dari rumah mereka. Ratusan bangunan di desa-desa Rohingya hancur menurut citra satelit

Aung San Suu Kyi - BBC News

Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi berjanji untuk mengusahakan "perdamaian dan rekonsiliasi nasional", dengan adanya kecaman internasional atas tindakan keras yang dilakukan militer terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Gelombang warga Rohingya telah membanjiri perbatasan Bangladesh. Mereka mengaku telah menghadapi pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan oleh aparat Myanmar.

Myanmar membantah tuduhan dan mengklaim bahwa tentaranya hanya memburu "teroris" yang menjadi dalang serangan mematikan di pos polisi bulan lalu.

Ribuan warga Rohingya lainnya melarikan diri ke China saat terjadi bentrokan lain antara tentara dan pemberontak etnis lokal di wilayah utara negara bagian Shan.

Diperkirakan 30.000 warga Rohingya telah terusir dari rumah mereka. Citra satelit yang dianalisis oleh kelompok Human Rights Watch (HRW) menemukan ratusan bangunan di desa-desa Rohingya telah hancur.

Namun dalam sebuah forum bisnis di Singapura, Suu Kyi tidak menyinggung tentang kekerasan di negara bagian Rakhine, ia hanya menyebutkan bahwa Myanmar yang multi-etnis perlu mencapai stabilitas agar menarik lebih banyak investasi.

Suu Kyi memulai kunjungan tiga hari ke Singapura, yang merupakan investor asing terbesar di Myanmar setelah China, bersamaan dengan tekanan internasional pada pemerintahannya untuk mengatasi krisis Rohingya.

"Seperti yang anda tahu, kami memiliki banyak tantangan. Kami adalah negara yang terdiri dari banyak komunitas etnis dan kami harus berusaha mencapai stabilitas serta kepatuhan hukum, yang seperti orang Singapura banggakan", ujar Suu Kyi.

"Pebisnis tidak ingin berinvestasi di negara-negara yang tidak stabil. Kami tidak ingin terus-terusan tidak stabil, tapi kami memiliki sejarah panjang mengenai perpecahan etnis, sehingga rekonsiliasi nasional dan perdamaian mau tidak mau menjadi penting bagi kami", katanya.

Kritik terhadap Myanmar, yang didominasi oleh pemeluk Buddha, datang dari Malaysia dan Indonesia, negara tetangga dengan mayoritas penduduk Muslim.

Suu Kyi sempat menjadwalkan kunjungan ke Indonesia namun ditangguhkan karena adanya aksi protes dan ancaman bom terhadap kedutaan Myanmar.

Suu Kyi menunjuk rekan sesama pemenang Nobel dan mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, sebagai pemimpin sebuah komisi khusus untuk menemukan cara-cara memperbaiki perbedaan agama dan etnis di Rakhine.

Annan telah memulai perjalanannya ke Myanmar pada Selasa (29/11) lalu. (thestar.com)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment: