Penggunaan lilin dan kue untuk pertama kalinya terjadi di Yunani, untuk perayaan hari lahir dewi bulan Artemis


Ilustrasi perayaan Ulang Tahun (YouTube)

Perayaan ulang tahun telah menjadi salah satu budaya paling populer di seluruh dunia.

Pernahkah anda berpikir mengapa masyarakat dunia merayakan ulang tahun?

Momen itu biasanya digunakan untuk bertemu dengan keluarga atau teman, yang memberikan ucapan selamat dan kado karena telah melewati (lagi) satu tahun usia.

Bahkan momen ulang tahun kerap dijadikan standar kepedulian dan perhatian terhadap seseorang. Dengan memberi kejutan di tengah malam, menyiapkan lagu, kue dan lilinnya sebagai simbol tak terpisahkan.

Sebaliknya, mengabaikan ultah berarti tak peduli, lupa tanggal bisa berarti sikap cuek. Pasalnya tanggal lahir sudah jadi hari 'sakral' (baca: penting) bagi seseorang yang merayakan.

Karena hari 'sakral', berarti jadilah ultah adalah hari utang penyelenggaraan pesta meriah atau traktiran.

Tapi darimana perayaan seperti ini muncul, sehingga populer di masyarakat sekuler hingga relijius?

Menurut Todd Van Luling dari Huffington Post, ada sebuah alasan perayaan ultah muncul. Meski belum ditemukan fakta jelas.

Berikut ulasan Luling dari beberapa kisah sejarah yang berkaitan dengan asal-usul ulang tahun:

Dimulai dari Mesir kuno
Pada masa Mesir kuno, kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang Firaun, yang dipercayai sebagai titisan dewa (pagan).

Penobatan jabatan Firaun kepada seseorang menjadi momen penting yang dirayakan dibandingkan hari lahir sang Firaun baru itu.

Para ahli menggunakan referensi dari Bibel yang menyebut adanya perayaan ulang tahun Firaun, diperkirakan muncul pada 3.000 SM.

Namun, seorang ahli tentang Mesir, Dr. James Hoffmeier, percaya bahwa ulang tahun dimaksudkan sebagai hari penobatan Firaun karena disebut sebagai “kelahiran dewa”.

Mitologi Yunani menambahkan lilin dan kue
Orang Yunani memiliki kebiasaan memberikan persembahan kue kepada Artemis, sang dewi bulan. Sesuai dengan nama dewi itu, orang-orang membuat kue berbentuk bulan.

Untuk menambah kecantikan dan meniru sinar bulan, masyarakat Yunani menambahkan lilin diatas kue.

Mereka juga meniru kebiasaan orang Mesir yang merayakan hari ulang tahun Firaun, sehingga masyarakat Yunani membuat perayaan ultah kepada dewa dewi sesembahannya.

Romawi juga membuat pesta ulang tahun, tapi khusus lelaki
Pendapat umum lain meyakini bahwa bangsa Romawi menjadi peradaban pertama yang merayakan ulang tahun untuk tokoh-tokoh non-reliji.

Rakyat Roma merayakan ulang tahun bagi teman-teman dan keluarga, sementara pemerintahnya menetapkan hari libur untuk merayakan ulang tahun tokoh terkenal.

Seseorang yang mencapai umur 50 tahun akan menerima kue khusus yang terbuat dari tepung terigu, minyak zaitun, madu dan keju parut.

Namun semua perayaan itu dikhususkan bagi laki-laki. Ulang tahun perempuan tidak dirayakan hingga abad ke-12.

Kristen awal: Ulang tahun ritual paganisme
Penganut Kristen pada awalnya tidak menyetujui perayaan ulang tahun karena dianggap bermula dari ritual pagan (penyembah berhala), serta percaya manusia terlahir dengan memikul sebuah “dosa warisan”.

Namun, mereka mengubah mindset sejak abad ke-4. Serta mulai merayakan ulang tahun Yesus yang hingga saat ini dirayakan sebagai hari Natal.

Perayaan ini disetujui Gereja karena berharap bisa menggaet warga Romawi yang sebelumnya sering merayakan ulang tahun Saturnalia (tradisi pagan).

Kue ulang tahun modern diciptakan tukang roti Jerman
Perayaan ulang tahun semakin menyebar ke penjuru dunia. Di China, ulang tahun pertama seorang anak menjadi sangat dispesialkan.

Namun, perayaan paling cocok untuk asal-usul ulang tahun modern adalah Kinderfeste yang muncul pada abad 18.

Kinderfeste merupakan sebuah perayaan ulang tahun bagi anak-anak Jerman, dengan adanya kue dan lilin.

Jumlah lilin yang diberikan sesuai dengan usia mereka, dan biasanya ditambahkan satu batang sebagai simbol harapan untuk dapat hidup setahun ke depan.

Tradisi meniup lilin dan mengucapkan permohonan juga dipercaya berawal dari perayaan ini.

Revolusi Industri membawa kelezatan dalam kue ulang tahun
Untuk beberapa waktu lamanya, kue ulang tahun yang lezat hanya bisa dihadirkan oleh masyarakat kelas atas, karena bahan bakunya termasuk bahan mewah.

Revolusi industri membuat semua kalangan dapat merayakan ulang tahun dengan kue yang lezat, karena bahan baku menjadi berlimpah dengan adanya produksi massal.

Asal mula lagu ulang tahun
Pada 1893, Patty Hill dan Mildred J. Hill menulis sebuah lagu dengan judul, "Good Morning to All," yang dinyanyikan oleh siswa sekolah sebelum kelas dimulai.

Lagu ini menjadi populer di Amerika, dan menimbulkan sejumlah variasi.

Robert Coleman menerbitkan sebuah buku lagu pada tahun 1924, dengan menambahkan/mengganti lirik pada lagu tersebut.

Beberapa perubahan membawa lagu yang saat ini kita semua ketahui, "Happy Birthday To You"

Ulang tahun menurut Islam
Agama Islam tidak pernah mengajarkan adanya perayaan khusus setiap tahun pada tanggal lahir.

Bahkan di level tertingginya, terdapat larangan mutlak meniru-niru suatu kaum non-Islam (kafir) pada hal-hal yang berkaitan dengan ritual (keyakinan) mereka.

Apalagi ternyata ulang tahun berasal dari evolusi ritual kaum pagan di Mesir dan Yunani, dengan jejak tersisa seperti lilin.

Ulang tahun juga dipandang tidak sesuai dengan berbagai aspek lain ajaran Islam, yaitu konsep sisa hidup yang seharusnya terus berkurang tiap tahun.

Meski demikian, populernya ulang tahun dalam 'kemasan sekuler' membuat banyak umat Islam mengabaikan sejarah asal munculnya tradisi 'kesakralan tanggal lahir'. (HP/rslh)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.