Ribuan orang menderita infeksi akibat luka pecahan peluru, hipotermia, dan kekurangan gizi

Hampir 40 ribu orang mengungsi dari timur Aleppo saat rezim berusaha menguasai area tersebut. (Al-Jazeera)
Petugas kesehatan di Idlib kewalahan dengan banyaknya pasien yang tiba dari Aleppo timur.

Ribuan orang menderita infeksi akibat luka pecahan peluru, hipotermia, dan kekurangan gizi.

Ahli bedah harus bekerja hingga 12 jam sehari, dan fasilitas medis dipaksa digunakan melampaui kapasitas seharusnya.

Maram, anak berusia 5 bulan, menjadi salah satu pasien yang ditangani oleh ahli bedah, dr. Mounir Hakimi.

"Dia kehilangan kedua orang tuanya dalam serangan udara, terdapat beberapa tulang yang patah, luka di perutnya, dan kehilangan sebagian kulit", ujar Hakimi.

Menurutnya, Maram sempat ditinggal di rumah sakit, hingga kemudian diangkut oleh ambulans evakuasi.

Hakimi melanjutkan, kasus Maram banyak dialami oleh pengungsi lainnya. Dokter di Idlib telah melihat puluhan luka yang terinfeksi secara serius.

Beberapa diantaranya kemungkinan perlu diamputasi atau harus mengalami cacat jangka panjang dan permanen.

"Karena serangan udara yang terus-menerus di Aleppo, beberapa anak terkena pecahan peluru yang membuat mereka lumpuh. Banyak anak-anak yang kehilangan penglihatan karena terkena pecahan pada mata mereka", ujar Hakimi.

Warga Aleppo timur juga diduga mengalami gejala trauma psikologi.

"Seorang ayah yang memiliki anak berusia tiga tahun, bertanya-tanya mengapa anaknya belum dapat berbicara, padahal ia tidak terluka", tutur Hakimi.

"Anak tersebut lahir pada masa perang dan saat ini belum bisa mengucapkan satu kalimatpun. Sepertinya anak itu mengalami syok akibat adanya serangan udara", tambahnya.

Infrastruktur medis di Idlib sendiri telah mengalami kerusakan. Serangan bom Birmil (barrel) dan pesawat Rusia melumpuhkan beberapa rumah sakit, sekolah, selain pertahanan oposisi.

"Fasilitas medis yang kami miliki berada dalam beban besar, bahkan sebelum adanya evakuasi. Dengan kondisi ini, kami harus menghadapi ambahan populasi sedangkan dana semakin berkurang. Peralatan tidak akan sanggup menangani jumlah korban", keluh dokter Hakimi.

Menurut aktivis dari lembaga pengawasan HAM "Syrian Network", di Idlib saja terdapat 11 pembantaian November lalu.

Pembantaian yang dimaksud adalah pembunuhan terhadap lebih dari 5 warga sipil sekaligus.

Idlib kemudian harus menjadi tempat pertolongan bagi warga Aleppo timur yang keluar setelah kota itu diambil alih rezim Assad.

Sekitar 630 orang yang mengalami luka berat segera dievakuasi keluar dari Suriah.

Sementara itu, pekerja medis yang ikut meninggalkan timur Aleppo telah bersumpah akan terus mengabdi di tempat baru mereka.

Lembaga Medis Amerika-Suriah (SAMS), yang telah memberi dukungan rumah sakit di Aleppo, berencana memindahkan operasi ke tiga fasilitas kesehatan di beberapa wilayah oposisi, termasuk Idlib.

Situasi kemanusiaan di Idlib mungkin akan makin tertekan dan memburuk.

Analis percaya, rezim akan menyasar oposisi di provinsi ini, dengan dalih memerangi "kelompok teroris internasional". (Al-Jazeera).
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.