Muncul kekhawatiran, China datang dan pos ekonomi akan "ditanami" dengan warganya yang berjumlah melimpah

Cover majalah Tempo edisi Agustus-September 2015
Partai Komunis China dalam beberapa dekade berhasil menyulap negeri tirai Bambu menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Perekonomian RRC seperti balon yang terus menggelembung. Dengan berbagai politik dagang, China berhasil menjual barang berharga murah secara massal.

Akibatnya, barang-barang itu membuat gerah negara lain. Bagaimana tidak, gara-gara kurs mata uangnya kecil, produk China sangat murah dan banyak pula. Menggusur para pesaing lokal.

Sangat sulit bersaing dagang kecuali berupa produk SDA mentah, dimana China memang membutuhkan dalam jumlah besar untuk memutar mesin produksinya. Misalnya RI yang menjual gas alam murah pada China sejak era Presiden Megawati.

Selain membanjiri seluruh dunia dengan produknya, raksasa Beijing juga melebarkan sayap investasi ke berbagai negara.

Yang paling menonjol adalah pembangunan infrastruktur. Inilah hajat besar mereka di benua Afrika beberapa tahun ke belakang.

Sejak lama, China begitu cepat soal pembangunan. Gedung-gedung, jembatan dan lain-lain dibangun dalam hitungan hari.

Ada satu corak dari proyek China di Afrika, yaitu selalu mendatangkan para pekerjanya langsung.

Di Angola, eksodus pekerja asal China mendominasi proyek-proyek infrastruktur. Para pekerja lokal tersisih dengan alasan efisiensi kerja.

Sejak beberapa tahun lalu, puluhan ribu buruh China datang ke Angola menggarap proyek-proyek pembangunan kota setelah kehancuran akibat perang sipil.

China masuk ke Angola dengan barter minyak. Pemerintah Angola menjual minyak, sebagi gantinya China membangun sejumlah infrastruktur di sana.

Ibukota Luanda mengundang para investor China yang kemudian mengimpor kuli hingga mandornya.

Para pekerja China berseragam biru khas sibuk membangun jalan, gedung, bangunan, rel kereta dan sekolah. Mereka bahkan memiliki fasilitas kesehatan sendiri yang dikelola oleh dokter asal China.

Nyaris tak ada pekerja lokal di proyek Angola, kecuali keamanan dan dua wanita yang bertugas mencuci sayuran.

Kelompok LSM di Angola menyoroti masalah banjir buruh ini. Mereka mengakui banyak generasi muda Angola yang belum mengenyam pendidikan tinggi, tapi tidak berarti harus mengimpor tenaga kerja rendahan dari China.

Akibatnya timbul kecemburuan sosial di Angola. Ada sejumlah kasus penyerangan warga lokal terhadap para pekerja China. Bahkan sebagian menimbulkan korban.

Video-video dokumenter Barat menggambarkan sejumlah penduduk lokal jadi korban pembangunan, di posisi kontra.

Yang mencolok adalah korban penggusuran, setelah harus kehilangan lahan tempat pencaharian. Pasalnya, tanah itu akan jadi tempat proyek infrastruktur garapan China.

Pendukung proyek menilai negeri mereka membutuhkan infrastruktur agar terus membangun ekonomi. Dan China lah yang bisa melakukannya.

Bahkan, kedatangan pekerja China dipandang bukan ancaman, melainkan peluang "transfer ilmu dengan tenaga kerja lokal" yang masih terbelakang.

Kasus Angola menjadi contoh kerja sama dengan China telah menakuti sebagian masyarakat di tanah air, yang juga terjadi investasi infrastruktur.

Mereka berpendapat, China mungkin tidak datang seperti kolonialisme Eropa yang mengekploitasi dan memeras warga pribumi.

Tetapi, sangat ditakutkan jika China datang untuk meminggirkan atau menyingkirkan warga lokal. Karena pos ekonomi akan "ditanami" dengan warganya yang berjumlah melimpah.

Hantu buruh China di Indonesia
Buruh China sangat populer bagi netizen tanah air, sejak 2 tahun lalu, mereka diisukan akan membanjiri tanah air sebagaimana barang murah dari negaranya.

Kekhawatiran serbuan tenaga kerja asing China yang masuk ke Indonesia terus menguat. Foto-foto dan berita online berbau 'buruh China' selalu diserbu para clickbait.

Perdebatan di masyarakat soal jumlah tenaga kerja asing asal China terus terjadi.

Sebagian khawatir jumlahnya bisa membengkak mencapai 10 juta orang (target pertukaran turis kedua negara).

Meski dibantah dengan data resmi pemerintah, namun total riil mereka seperti hantu, terutama yang ilegal berkedok wisatawan.

Angka jutaan memang dibantah oleh Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan, Hery Sudarmanto.

"Di kita, tenaga kerja asing yang terdaftar di Kemenaker, khusus dari China ada 21.271, mereka adalah yang mengajukan perizinannya. Dari sidak di lapangan, kalau 10 juta itu, katakan sekarang melalui data orang (asing dari Cina) yang masuk ke Indonesia tidak sebanyak itu. Sekarang begini saja, dari pariwisata yang masuk tahun ini, ada nggak 10 juta?", kata Hery.

Saat ditanya berapa banyak sebenarnya tenaga kerja asing ilegal asal Cina yang menyalahgunakan atau malah tidak memiliki izin, Hery menyatakan mereka "belum bisa memprediksi (jumlah) yang ilegal".

"Kalau mendapatkan tenaga kerja asing yang tidak sesuai dengan jabatan atau mencurigakan, tolong sampaikan kepada kami," kata Hery.

Terkait kekhawatiran tenaga kerja asing akan merebut lapangan pekerjaan bagi WNI, Hery mengatakan pihaknya sedang meningkatkan pengawasan.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah tenaga kerja asing yang ada di Indonesia per November 2016 adalah 74.183 orang.

China, dengan 21.271 tenaga kerja, menjadi negara yang paling banyak mengirimkan tenaga kerjanya ke Indonesia. Jepang berada di posisi kedua dengan jumlah 12.490 tenaga kerja.

Mereka banyak terbanyak tersebar di sektor perdagangan dan jasa.

Menakertrans Hanif Dhakiri mengatakan, kementeriannya pada 2016 sudah memulangkan 700 tenaga kerja asing ilegal.

Tak diketahui jumlah pastinya
Terkait jumlah kuli impor asal China yang masuk, Komisi III DPR rencanananya akan memanggil Dirjen Imigrasi usai masa reses, yaitu pada 2017 nanti.

Anggota DPR dari Komisi III Muslim Ayub mengatakan, fokusnya nanti adalah untuk memastikan, apakah para warga negara China yang masuk ke Indonesia benar turis atau menggunakan visa turis untuk bekerja secara ilegal.

"Tenaga kerja termasuk di perkebunan, tambang emas, batu bara, pekerja-pekerja karet, yang sudah masuk dari China. Saya yakin itu bukan 21.000, saya tidak menafsirkan itu sampai 10 juta, tapi bagi saya, sampai hampir mencapai satu juta, itu sangat memungkinkan", kata Muslim.

Menurutnya, saat mengunjungi pabrik di Tangerang yang ia lupa namanya, "memang semua dipekerjakan, tenaga-tenaga kerja (asal) China".

"Itu yang ada di daerah itu saja, di Pulau Jawa, lain barangkali yang ada di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain sebagainya, itulah yang penting, akan kami panggil pihak Imigrasi, berapa sebenarnya yang valid?", tambahnya.

Sementara itu, pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Airlangga Hadi Subhan mengingatkan bahwa persoalan sebenarnya ada pada pengawasan terhadap izin yang dinilainya belum mencukupi, terlepas dari jumlah sebenarnya tenaga kerja China.

"Menurut perundang-undangan di Indonesia, yang boleh masuk itu adalah tenaga kerja hanya yang (posisinya) tidak bisa diisi oleh tenaga kerja lokal. Hampir mayoritas (tenaga kerja asing Cina yang masuk) tidak memenuhi perizinan, karena mereka yang dikatakan menyerbu ke Indonesia adalah tenaga-tenaga kerja kasar, dan itu tidak ada ruangnya dalam kesepakatan (dagang) apapun", kata Hadi.

Selain itu, Hadi menyebut soal ketidakseimbangan jumlah pengawas dengan perusahaan yang ada.

"Di Jawa Timur, ada 40.000 perusahaan, tapi jumlah pengawas seluruh Jawa Timur itu hanya 200 orang. Di Surabaya saja ada 15.000 (perusahaan), pengawas hanya 15 orang, bagaimana mungkin satu orang akan mengawasi 1.000 perusahaan?", keluhnya.

Hery membenarkan terjadi berbagai pelanggaran di lapangan terkait penyalahgunaan izin kerja tenaga kerja asing asal China.

Modus yang ditemukan oleh Kemenakertrans adalah mencantumkan posisi tenaga ahli, seperti mechanical engineering atau manajer quality control, namun ternyata posisi yang dikerjakan tidak sesuai dengan yang dicantumkan.

Bahkan, ditemukan pekerja-pekerja asing ilegal yang tidak memiliki izin sama sekali. (Detikcom/BBC Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.