Rezim Assad menolak gencatan senjata di Aleppo untuk kemanusiaan. Sementara Rusia dan China memveto resulusi DK PBB

Foto Landskap Aleppo pada 6/12/2016 (Reuters)

Mentri Luar Negeri rezim Suriah mengatakan pada Selasa (6/12) bahwa pihaknya menolak semua negosiasi gencatan senjata yang diajukan dengan pihak oposisi.

Rezim Assad ingin kelompok yang mereka sebut sebagai "teroris" itu keluar dari Aleppo terlebih dahulu.

Sebelumnya, pada Senin (5/12), Rusia dan AS dinyatakan akan bertemu pada pekan ini untuk membahas penarikan oposisi dari Aleppo.

Seorang pejabat AS mengatakan, Washington akan menerima usulan itu sebagai langkah untuk menyelamatkan warga.

Bersamaan, Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai gencatan senjata selama seminggu, dengan alasan bahwa pihak oposisi akan menggunakan jeda itu untuk "memperkuat diri dan dapat membahayakan warga sipil".

Rusia yang membantu Assad mengklaim hanya menargetkan kelompok Jabhah Fathu Syam (JFS), bekas afiliasi al-Qaeda yang dianggap "kelompok teroris internasional".

Namun pejuang oposisi yang ada di Aleppo menyebut bahwa JFS tidak hadir di kota itu dalam jumlah yang signifikan.

Serangan udara disebut terjadi secara membabi buta dan tanpa pandang bulu kepada semua kelompok.

Damaskus memang melabeli "teroris" pada semua faksi yang menentangnya, termasuk penggunaan istilah "pemberontak" (pihak oposisi).

Oposisi Suriah terdiri dari pejuang yang didukung secara politis oleh pihak asing (Turki, Arab Teluk hingga Barat). Dalam arti lebih luas, oposisi juga memasukkan kelompok jihadis. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.