Pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan alat utama sistem pertahanan (alutsista) kepada 4 negara Teluk

AS menyetujui kesepakatan penjualan alutsista ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Maroko senilai US$7 miliyar. (AFP PHOTO/SAUL LOEB)

Pemerintah Amerika Serikat menyetujui kesepakatan penjualan alat utama sistem pertahanan (alutsista) seperti helikopter, pesawat tempur dan teknologi rudal pada empat negara Arab yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Maroko.

Kesepakatan ini mencapai nilai sekitar USD 7 milyar atau mencapai Rp 90 triliun.

Dimuat CNN Indonesia AFP, melalui Kementerian Luar Negeri, pemerintah AS mengumumkan persetujuan penjualan alat pertahanan ini pada Kamis (8/12).

Selain menguntungkan negara, penjualan ini juga dianggap akan menguntungkan sejumlah perusahaan industri pesawat seperti Boeing dan industri pertahanan AS.

Helikopter cargo CH-47F Chinook AS yang dilengkapi mesin cadangan serta senapan mesin senilai USD 3,51 milyar berhasil diborong Saudi.

Industri pesawat AS seperti Boeing dan Honeywell Aeropsace akan menjadi kontraktor utama dalam kesepakatan penjualan alutsista terbesar ini.

Sekitar 60 karyawan negeri dan swasta asal Amerika akan bekerja di Saudi untuk mengontrol perawatan dan operasional pesawat.

Sementara itu, Uni Emirat Arab sepakat membeli Helikopter tempur AH-64E Apache yang didukung dengan sejumlah peralatan lain buatan Boeing dan Lockheed Martin. Pembelian ini memakan biaya sekitar USD 3,5 milyar.

Tak ketinggalan, Qatar berencana memboyong delapan jet kargo militer C-17 dan mesin cadangan dari AS dalam kontrak bernilai USD 781 juta.

Selain itu, Washington juga telah menyetujui kontrak untuk menjual rudal anti-tank TOW2A 1200 yang dibuat oleh Raytheon senilai USD 108 juta.

Meskipun pemerintah AS telah menyetujui penjualan ini, kesepakatan belum bisa dijalankan tanpa persetujuan Kongres. Secara teori, Kongres masih dapat membatalkan kesepakatan penjualan ini.

Namun, kesepakatan berpeluang besar disetujui karena keempat negara Arab ini adalah sekutu lama dan klien terbesar industri pertahanan AS di kawasan.

Di sisi lain, penjualan persenjataan AS ini juga memancing kritik, khususnya dari kelompok pemerhati HAM, yang menentang keterlibatan koalisi AS dan peran kontroversial Uni Emirat Arab dalam konflik mematikan di Yaman. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.