"Tentara Myanmar telah menargetkan warga sipil dalam serangan sistematis dan tak berperasaan"

Pengungsi Rohingya melakukan aksi protes didepan kantor dubes Myanmar di Kuala Lumpur, Malaysia (AlJazeera)

Amnesty Internasional pada Senin (19/12), mengatakan bahwa aksi militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.

"Tentara Myanmar telah menargetkan warga sipil dalam serangan sistematis dan tak berperasaan", ungkap kepala Amnesty Internasional wilayah Asia Tenggara, Rafendi Djamin.

"Tindakan menyedihkan ini bisa saja termasuk bagian dari penyerangan sistematis dan meluas kepada populasi sipil serta dapat dikatakan sebagai kejahatan kemanusiaan", lanjutnya.

Laporan Amnesty dikeluarkan saat pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, mengadakan pertemuan dengan anggota ASEAN di Yangon.

Negara-negara ASEAN secara tradisional memiliki tradisi untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri.

"Namun sepertinya hal itu akan berubah", ujar reporter Al-Jazeera Florence Looi.

"Myanmar mengatakan pertemuan itu diadakan agar negara-negara anggota dapat menyampaikan pendapat mengenai isu Rohingya dan mendapat penjelasan mengenai situasi di Rakhine", jelas Looi.

Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman menyebut pertemuan dapat dijadikan sarana menunjukan sikap tegas dalam melawan kekerasan dan diskriminasi kepada Muslim Rohingya.

Malaysia memang memberi kritik tajam terhadap pemerintah dan militer Myanmar.

Perdana Menteri Najib Razak bahkan mengatakan kejadian Rohingya sebagai genosida atau pembersihan etnis.

Sementara Kepala HAM PBB, Zeid Ra'ad al Hussein, menyebut Suu Kyi telah mengambil pendekatan jangka pendek, kontradiktif, dan tidak berperasaan untuk isu ini.

"Banyak analis mengharapkan pemimpin-pemimpin ASEAN mengambil keputusan seperti yang diminta oleh organisasi internasional. Yang terpenting adalah pembukaan jalur bantuan kemanusiaan yang diperkirakan dibutuhkan oleh 16.000 orang", ungkap Looi

Antara 76 hingga 400 Muslim Rohingya terbunuh menurut berbagai klaim, setelah aksi militer balasan sejak serangan 9 Oktober, dimana 9 polisi terbunuh oleh kelompok perlawanan.

Pihak pemerintah menyebut jumlah korban sebanyak 93 jiwa (17 polisi dan tentara, 76 penyerang, dan 6 lainnya tewas saat diintrograsi). 575 lainnya juga telah ditangkap.

Di lain sisi, saksi Rohingya menyebut jumlah kematian mencapai 400 jiwa, wanita-wanita diperkosa, dan desa-desa mereka dibakar habis.

Adapun menurut Amnesty, skala dan tingkat kekerasan belum diketahui pasti, karena militer menutup daerah itu dari lembaga observasi maupun bantuan. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.