Warga Aleppo berjalan di atas puing-puing bangunan membawa barang-barang mereka, melarikan diri dari serangan pasukan Assad

Warga Suriah berjalan di atas puing-puing bangunan sambil membawa barang-barang mereka, untuk melarikan diri dari bentrokan yang terjadi antara pasukan Assad dan oposisi di Tariq al-Bab dan al-Sakhour. Mereka menuju wilayah oposisi lainnya. (28/11/2016 REUTERS)

Pihak oposisi dan rezim Suriah saling tuding mengenai ketakutan warga untuk memberikan keuntungan bagi masing-masing pihak.

Pihak Assad menuduh kelompok oposisi menyebarkan laporan palsu mengenai penyiksaan yang dilakukan militer agar warga bertahan di wilayah mereka.

Di lain sisi, oposisi mengatakan bahwa warga yang melaporkan tindak kekerasan setelah melarikan diri melakukan itu karena takut terhadap tekanan rezim.

Perebutan Aleppo oleh rezim Assad membuat pergerakan warga terpecah. Ribuan warga memilih pindah ke wilayah oposisi lainnya karena takut ditangkap dan ditahan oleh pihak militer.

Namun ada juga yang menuju wilayah Assad dan distrik Kurdi.

Hasan Al-Ali (33) adalah salah satu warga yang mengambil keputusan menuju sisa wilayah oposisi.

"Saya tidak sempat membawa apapun. Kami membawa anak-anak, masuk ke mobil, dan segera pergi, Karena pasukan rezim bisa datang kapan saja", tuturnya.

Keputusan untuk tetap tinggal di wilayah oposisi bukanlah hal yang mudah, mengingat kondisi kritis yang dialami akibat kurangnya pasokan kebutuhan dasar seperti makanan, listrik dan pengobatan.

Wilayah oposisi juga sedang mengalami serangan besar-besaran oleh Assad dan sekutunya.

Utusan PBB untuk Suriah memperkirakan, sekitar 100.000 orang masih tinggal di wilayah oposisi. Sementara SOHR memperkirakan jumlah warga terkepung mencapai 200.000 jiwa.

"Banyak warga kelaparan. Kami diberi sekantung roti tiap hari, bahkan terkadang hanya dua hari sekali", tutur seorang wanita yang menyebut dirinya "Ummu Ali" (ibu Ali).

Ummu Ali adalah salah satu warga yang memilih untuk pindah ke daerah rezim Damaskus.

Seorang warga lain yang memilih untuk mengungsi adalah Mahmoud Zakaria Rannan. Ia dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi setelah rumahnya terkena bom.

"Saya telah berada di rumah ini selama 40 tahun. Bagaimana saya bisa (memutuskan) meninggalkannya dalam sehari? Saya memiliki enam orang anak dan saya terluka. kami harus berjalan dengan perlahan", kisahnya.

Perjalanan itu memakan waktu 2 jam dengan berjalan kaki.

"Kami bersama sebuah rombongan yang cukup besar. Kami bahkan ditembaki saat ada di daerah bandara", jelasnya.

Abed al-Salam Ahmad juga memutuskan untuk mengungsi ke daerah rezim karena melihat kondisi yang semakin memburuk.

"Saya harap Suriah akan kembali seperti semula, dan orang-orang bisa mendapatkan keamanan dan perdamaian", harapnya. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.