GNPF-MUI memperkirakan, 1.000 orang cukup untuk menjaga jalannya persidangan

Ilustrasi Aksi Bela Islam

Sidang perdana kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama diagendakan akan digelar pada Selasa besok (13/12).

Sidang akan dilaksanakan di gedung lama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Ustadz Zaitun Rasmin, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI), akan menurunkan sekira 1.000 orang untuk mengawal persidangan yang digelar terbuka itu.

"Sesungguhnya jumlah persis kami belum ketahui, minat umat terlalu besar untuk datang. Tetapi GNPF-MUI memperkirakan, 1.000 orang cukup untuk menjaga jalannya persidangan", kata Ustaz Zaitun Rasmin dikutip Vivanews.

Ia juga mengklaim, pihak advokat dari GNPF-MUI sudah melakukan koordinasi dengan aparat keamanan terkait kedatangan 1.000 orang yang mengawal sidang kasus dugaan penistaan agama.

"Sudah koordinasi, advokat GNPF selalu melakukan koordinasi, Insya Allah (kami) selalu ingin berjalan di atas koridor hukum di atas masalah-masalah itu," kata dia.

Dari GNPF, kata Ustadz, memang sedari lama akan fokus untuk mengawal kasus ini.

Terlebih, kasus ini dianggap begitu penting bagi umat Islam dan telah menjadi perhatian puluhan juta umat Muslim di Tanah Air.

"Karena itu GNPF akan mengawal di tiap sidang-sidang, karena sidang terbuka. GNPF akan hadir, bersama-sama dengan jumlah yang dimungkinkan hadir di ruang sidang nanti", kata Ustadz Zaitun.

"Kami juga harap pihak kami tidak terpancing hal-hal yang bisa merusak persidangan, maka itu sudah menjadi kewajiban bagi aparat untuk memaksimalkan upaya penjagaan besok", harapnya.

Dikritik pakar hukum
Namun, langkah GNPF-MUI itu mendapat kritikan dari pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia, Teuku Nasrullah.

Menurut Nasrullah, mengerahkan massa merupakan tindakan yang tak ada manfaatnya.

"Buang waktu saja, seharusnya GNPF membuat tim independen, lalu analisa persidangan, ketimbang mengirim ribuan orang untuk kawal sidang", katanya.

"Lebih baik mereka di rumah, itu lebih bermanfaat, sejuta orang dikirim tapi enggak ngerti apa-apa buat apa?", kritik Nasrullah.

Ia justru khawatir akan adanya masalah lain jika banyak orang yang ikut jalannya sidang. (Vivanews)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.