Pemuda Muhammadiyah kunjungi rumah Syafii Maarif
Beberapa hari lalu, pasca kontroversi  acara ILC, "Buya" Syafii Maarif dikunjungi oleh sejumlah pemuda Muhammadiyah di rumahnya di Yogyakarta.

Seperti ditulis oleh Iwan Setiawan, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah DIY:

"Di hari pahlawan ini (10 November) beredar kabar akan ada demonstrasi di rumah Buya Syafii Maarif di Nogotirto Sleman. Saya dan kawan-kawan Pemuda Muhammadiyah lantas ke sana. Buya Syafii Maarif adalah orang tua kami, menjaga Buya adalah prioritas kami. Setelah dzuhur kami kumpul di Masjid Nogotirto. Selang tidak berapa lama Buya muncul dari arah selatan, dibonceng sepeda motor. Buya habis beli nasi padang di pinggir jalan kampung.

Buya melihat kami di dalam masjid dan menyalami. Kami memperkenalkan diri dari AMM DIY, wajah Buya nampak berseri.

“Ayo kerumah saya”, ucap Buya. “ Pak Haedar Nashir mau ke sini, sebelum dia datang, kalian menemani saya”, tuturnya sambil jalan menuju rumahnya.

Kami lantas menuju rumah Buya yang letaknya di sebelah Masjid Nogotirto.

“Ayo apa yang mau kalian tanyakan”, tanya Buya

“Kami nonton ILC, kenapa Buya melawan arus umat Islam tentang masalah Ahok?”

"Ahok itu mulutnya memang tidak terkontrol, kasar. Ahok itu mana mengerti Agama, kesalahannya Ia masuk wilayah yang dia tidak pahami. Saya sudah nonton videonya berkali-kali. Saya paham bila berseberangan dengan mayoritas umat Islam. Sekarang proses pemeriksaan Ahok sudah berjalan. Kita lihat hasilnya. Saya ingat ajaran Kiai Amir Ma’sum dari Solo, mantan Pimpinan Majelis Tarjih, Untuk memahami Agama butuh hati yang jernih. Kalau tanpa hati yang jernih niscaya Al-Qur’an tidak tidak akan bersahabat dengan kita"

“Tapi Ahok didukung oleh sembilan Naga Buya?”, kata teman saya

"Saya setuju. Tapi fokus saya pada Ahok itu menistakan agama atau tidak, saya tidak mau masuk ranah politik. Soal Cina, saya sudah menulis di Koran Republika tentang bahaya Kuning di Republik ini. Saya mengkritik Jokowi yang terlalu pro pada Cina. Kalau saya membela Cina, tulisan itu tidak akan muncul di Koran Republika. KTP saya bukan Jakarta, saya tidak ada kepentingan politik membela Ahok, saya orang bebas. Saya mencintai republik ini 100% dan semua orang tahu"

“Bagaimana dengan sebagian anak-anak Muda Muhammadiyah yang bersebarangan dengan Buya, ada juga yang ikut demo 4 November 2016 kemarin di Jakarta?”

"Saya dengar hari ini akan ada demo di rumah saya. Kalau ada yang demo ke sini, saya ingin mengundang mereka, mengajak berdialog mereka. Yang tidak setuju tidak masalah. Kalau ingin ketemu dengan saya, akan saya ajak berdialog. Demo 4 November itu elegan, damai, walau terjadi sedikit kerusuhan"

Diskusi yang asyik ini selesai setelah Pak Haedar Nashir dan Pak Yunahar Ilyas tiba di rumah Buya Syafii Maarif.

Bagi kami anak-anak Muda Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif adalah orang tua kami. Kami akan menjaga Buya. Dari Buya kami diajarkan untuk belajar mensikapi perbedaan, diajarkan untuk tegar dalam berbeda pendapat. Perbedaan pendapat dengan seseorang jangan disikapi dengan kata-kata kotor, tetapi dengan dialog dari hati ke hati. Buya berpesan agar jangan sampai kebencian kita kepada suatu kaum, menjadikan kita tidak adil dalam bersikap."


Pendapat PP Muhammadiyah
Sekjen PP Muhammadiyah, Abdul Muti menegaskan bahwa pernyataan Syafii Maarif yang menyatakan Ahok tidak menistakan agama merupakan pendapat yang biasa saja dan tidak kontroversial.

"Sebenarnya yang disampaikan Buya itu tidak kontroversial, itu hanya satu dari sekian pendapat yang ada sehingga ketika Buya menyampaikan bahwa Ahok tidak bersalah, itu bukan pada konteks penafsirannya, tapi pada konteks bahwa dia (Ahok) itu pemeluk agama lain", kata Muti.

Syafii Maarif menilai ucapan Ahok kepada warga Kepulauan Seribu tidak melecehkan Al-Qur'an.

"Secara utuh pernyataan Ahok telah saya baca. Ahok tidak mengatakan Al-Maidah itu bohong", katanya.

Ia menjelaskan bahwa arti kata “Aulia” pada Al-Maidah ayat 51 telah mengalami tiga kali perubahan penerjemahan oleh Kementrian Agama.

"Artinya, bahwa dalam satu institusi yang sama yakni Kementerian Agama saja itu diterjemahkan berbeda-beda, maksud saya, pengertiannya pada penafsiran yang lain juga tidak tunggal. Jadi sekarang persoalannya bukan tafsir Surat Al-Maidah ayat 51, tetapi persoalannya dia (Ahok) sebagai pemeluk agama lain yang mengomentari penafsiran Al-Qur'an", ujarnya.

Pernyataan Syafii kemudian menjadi kontroversi oleh sebagian umat Islam Indonesia karena dinilai membela Ahok. (Sang Pencerah/Antaranews)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.