"Warga mengatakan kepada saya, hampir 72 orang tewas di tepi sungai, militer menembaki kerumunan di tepi sungai", jelas seorang tokoh masyarakat Rohingya

anak-anak Rohingnya di desa U Shey Kya, Rakhine, Myanmar (reuters)

Ratusan Muslim Rohingya mencoba melarikan diri ke Bangladesh akibat kekejaman militer di Myanmar barat. Pihak tentara mengatakan, terdapat 130 korban jiwa dalam peristiwa pelarian ini.

Beberapa warga Rohingya ditembak mati saat mereka mencoba menyeberangi sungai Naaf yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh.

Pengungsi yang datang menggunakan perahu kemudian diusir pergi oleh penjaga perbatasan Bangladesh, sehingga kemungkinan rombongan itu terdampar di laut.

"Warga mengatakan kepada saya, hampir 72 orang tewas di tepi sungai, militer menembaki kerumunan di tepi sungai", jelas seorang tokoh masyarakat Rohingya, dikutip dari Reuters.

Seorang sumber lain dari Maungdaw mengatakan bahwa perempuan dan anak-anak dari 10 desa mencoba melarikan diri ke Bangladesh. Beberapa tewas saat berusaha masuk ke dalam kapal.

"Banyak mayat yang mengambang di laut", ungkap sumber tersebut.

Tentara Myanmar telah berjaga di perbatasan dengan Bangladesh sejak peristiwa penyerangan 3 pos perbatasan 9 Oktober yang menewaskan 9 polisi.

Tentara juga telah mengepung distrik dengan etnis Rohingnya menjadi penduduk dominannya. Myanmar pun  melarang petugas bantuan atau pengamat independen masuk ke are tersebut.

Pasukan keamanan mengintensifkan serangan sejak seminggu lalu, bahkan dengan helikopter untuk memperkuat serangan.

Diperkirakan, terdapat 500 warga Rohingnya yang telah mengungsi untuk tinggal di kamp pengungsian dekat perbatasan, di dalam teritori Bangladesh.

Namun, pada Selasa (15/11), tentara Bangladesh mengusir warga Rohingnya yang mencoba masuk.

“Pada Selasa kemarin, terdapat 86 Rohingnya termasuk 40 wanita dan 25 anak-anak diusir oleh Pasukan Keamanan Bangladesh (Border Guard Bangladesh/BGB) dari Teknaf”, ujar Komandan Sektor Cox Bazar Lt. Col. Anwarul Azim.

“Mereka mencoba masuk ke Bangladesh dengan 2 perahu mesin. Saat ini kami meningkatkan patroli dan pasukan tambahan telah didatangkan untuk memastikan keamanan di sekitar area perbatasan", katanya.

Sementara menurut Mayor Kyaw Mya Win, dari kepolisian Maungdaw, Myanmar, warga itu melarikan diri karena mencoba menyerang militer.

"Penduduk desa telah menjadi pemberontak, termasuk perempuan di desa", klaim kata Kyaw Mya Win.

Peristiwa kekerasan yang terjadi telah menyebabkan 102 orang tewas sejak 9 Oktober, sedangkan jumlah korban pasukan Myanmar mencapai 32 jiwa.

Menurut sebuah video yang beredar, warga Rohingya coba melawan tentara dengan parang atau senjata lain seadanya.

Sebelum ini, pihak Myanmar mengklaim operasi militernya dilakukan untuk mengalahkan militan.

Perlu dicatat, saat ini Myanmar dipimpin oleh pemerintahan Aung San Suu Kyi yang pernah meraih hadiah nobel perdamaian. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.