Delegasi oposisi Suriah Anas al-Abdah berbicara kepada wartawan setelah pertemuan pertama dengan delegasi pemerintah Suriah di kantor PBB di Jenewa,25/1/2014. (REUTERS)

Presiden oposisi dari Syrian National Coalition (SNC) pada Rabu (9/11) mengatakan, kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS diharapkan memberi momentum baru untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 6 tahun.

Dilansir dari Reuters, Presiden SNC Anas al-Abdah mengatakan:

"Presiden Amerika yang terpilih memiliki kemauan dan kemampuan untuk menegaskan kembali kepemimpinan Amerika di daerah Suriah"

Hal ini kontras dengan pernyataan AS, yang diberitakan mengizinkan Rusia untuk bertindak dengan impunitas.

SNC yang berbasis di Turki adalah kelompok politik dan oposisi yang didukung oleh negara-negara Barat untuk menentang Assad.

Namun salah satu kelompok oposisi di Suriah malah merasa kurang optimis.

"Saya pikir beberapa hal akan menjadi sulit karena pernyataan Trump dan hubungannya dengan Putin dan Rusia. Saya membayangkan ini tidak baik untuk masalah Suriah", Zakaria Malahifji, kepala kantor politik dari kelompok Fataqim yang berbasis di Aleppo.

Trump terlihat memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap Rusia dari pemerintahan AS saat ini. Hal itu memicu kekhawatiran bahwa Rusia akan lebih "berseangat".

Setelah Trump dinyatakan memenangkan pemilihan, Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Moskow siap untuk memulihkan hubungan dengan Washington.

Al-Abdah mengatakan, SNC mengirim ucapan selamat kepada Trump serta telah menjalin koneksi dengan penasehat Trump mengenai Suriah.

Para pejabat oposisi juga diketahui akan mengadakan pertemuan saat Uni Eropa datang untuk membahas kemenangan Trump dan konsekuensinya terhadap Suriah.

Al-Abdah juga mendesak Jerman untuk meningkatkan upaya dalam mengakhiri perang dan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia karena telah mendukung Basyar al-Assad.

Ia mengatakan, para pejabat SNC membahas berbagai langkah berikutnya dengan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier, termasuk pengenaan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan Rusia dan bank yang membantu Assad dan serangan militer.

Menurut Al-Abdah, Steinmeier telah berjanji melakukan semua yang ia bisa dalam mengakhiri penargetan serangan warga sipil.

Para pejabat oposisi merasakan peningkatan minat Jerman terhadap pemberian sanksi.

"Sudah waktunya bagi Jerman untuk memimpin kebijakan luar negeri Eropa di banyak kawasan, namun secara khusus berkaitan dengan Suriah", kata al-Abdah.

Jerman dihormati oleh rekan-rekan Uni Eropa karena telah menerima pengungsi Suriah dengan jumlah yang besar selama dua tahun terakhir, juga memiliki hubungan baik dengan kedua belah pihak anatra Rusia dan Amerika Serikat.

"Mereka bisa membawa beberapa ide baru ke dalam diskusi ini. Monopoli antara AS dan Rusia belum menghasilkan sesuatu yang baik sejauh ini", kata al-Abdah. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.