Sengketa pemangkasan produksi minyak terjadi antara Arab Saudi dengan Iran

Kantor OPEC di Wina, Austria
Iran dan Irak menolak tekanan dari Arab Saudi untuk mengurangi produksi minyaknya.

Hal ini menyebabkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kesulitan mencapai kesepakatan mengenai pembatasan produksi untuk meningkatkan harga minyak, lewat pertemuan pada Rabu (30/11).

Diskusi ahli di Wina sejak Senin (28/11) gagal menjembatani perbedaan antara pemimpin OPEC.

Yaitu antara Arab Saudi, dengan 2 negara pengekspor minyak besar lainnya, Irak dan Iran, mengenai mekanisme pemotongan produksi.

Pada Selasa (29/11), ketegangan meningkat saat Iran menulis surat kepada OPEC, mengatakan keinginan agar Arab Saudi mengurangi produksi sebanyak 1 juta barel per hari (bph). Angka ini lebih besar dari tawaran Riyadh.

"Ini adalah respon kepada Saudi (karena) mengatur Iran mengenai berapa yang harus diproduksi", ujar salah seorang narasumber, dikutip dari Reuters.

Menteri Perminyakan Iran, Bijan Zanganeh, mengaku bahwa pihaknya tidak siap untuk mengurangi produksi.

"Kami akan menetapkan tingkat produksi sebagaimana keputusan di Aljazair", ujarnya.

OPEC telah membuat perjanjian awal di Aljazair bulan September lalu untuk menetapkan total produksi pada kisaran 32,5-33 juta bph, untuk mendongkrak harga minyak, yang anjlok setengahnya sejak pertengahan 2014.

Namun, beberapa pekan terakhir, Riyadh merubah sikap dan menawarkan untuk memangkas produksi sebesar 0,5 juta barel per hari. Mereka juga meminta batas produksi Iran hanya 3,8 juta barel per hari.

Saat ketegangan meningkat, Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan bahwa akhir pekan ini pasar minyak akan mencapai kesetimbangan harga meski tidak ada kesepakatan pembatasan produksi.

Salah satu sekutu utama Arab Saudi, UEA, lewat Menteri Energi Suhail bin Mohammed al-Mazroui berpendapat bahwa pasar memang akan menyeimbangkan sendiri dalam waktu enam bulan.

Namun, kesepakatan produksi akan membantu mempercepat proses itu.

Minyak mentah jenis Brent LCOc1 turun lebih dari 4 persen, atau sekitar USD 46 per barel, setelah adanya komentar dari Indonesia dan Iran.

Beberapa analis, termasuk Morgan Stanley dan Macquarie memprediksi, harga minyak akan turun drastis jika OPEC gagal mencapai kesepakatan, kemungkinan akan menjadi USD 35 per barel.

Goldman Sachs, salah satu bank yang paling aktif dalam perdagangan minyak mengatakan bahwa harga rata-rata berkisar pada angka USD 45 per barel sampai pertengahan 2017, meski tanpa kesepakatan OPEC.

Pasar juga diprediksi mengalami defisit pada pertengahan 2017. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment: