Pemotongan hewan dengan cara Islami dinilai bisa memberikan kualitas daging yang lebih baik

Ilustrasi penyembelihan

Dalam Islam, pemotongan hewan telah diatur secara jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Proses tersebut adalah salah satu syarat agar makanan dapat dikatakan halal, sebuah hal mutlak bagi umat Islam dalam mengkonsumsi sesuatu.

Beberapa poin tentang pemotongan hewan diantaranya adalah menyembeli hewan di bagian leher dengan sekali tebas.

Menurut Prof. drh. Roostita L. Balia, M.App.Sc.,Ph.D. dari Universitas Padjajaran, salah satu hikmah pemotongan di bagian leher adalah tidak menimbulkan rasa sakit pada hewan.

“Karena jalur kehidupan (hewan) itu ada 3, yaitu aliran vena (darah), saluran nafas, dan saluran makanan. Itu harus ditebas sekaligus, supaya dinyatakan halal. Dalam ilmiahnya, itu tidak menimbulkan rasa sakit”, ungkap dosen Fakultas Peternakan Unpad tersebut, kepada Risalah beberapa waktu lalu.

Menurut Roostita, hewan yang dipingsankan terlebih dahulu justru memiliki resiko akan menjadi bangkai. Ukuran peluru yang biasa digunakan untuk anestesi hewan perlu diperhitungkan dengan tepat sesuai dengan berat hewan.

Penyembelihan buat bersih dari darah
Pemotongan hewan dengan cara Islam dinilai bisa memberikan kualitas daging yang lebih baik, seperti diungkap Drh. Dwi Cipto Budinuryanto.

Jika hewan menjadi bangkai atau sekarat (karena dipingsankan, red), maka darah yang keluar bisa jadi tidak maksimal.

“Jika tidak langsung disembelih, darah yang keluar tidak maksimal. Kandungan darah dalam daging hewan dapat mempengaruhi usia daging, atau dalam kata lain lebih cepat busuknya juga tidak sehat untuk dikonsumsi”, ujar Dwi.

Dwi juga mengingatkan, bahwa selain halal, aspek thayyib (baik) juga perlu diperhatikan. Hal ini sebagaimana tertera dalam QS. Al-Maidah: 88 dan An-Nahl: 114.

Thayyib dalam perkara hewan ternak, dimaksudkan pada perlakuan hewan secara layak, sebelum maupun setelah disembelih.

Kelayakan pengurusan hewan juga digaris bawahi oleh Prof. Roostita. Kinerja Rumah Potong Hewan dan manajemen SDM-nya, kompetensi tukang jagal, hingga cara pengemasan daging pun menjadi unsur-unsur yang terikat satu sama lain untuk menciptakan pangan yang halal dan thayyib.

Di Indonesia, Dinas Peternakan memberikan penilaian kepada RPH dengan masa kontrol setahun sekali.

Salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap hewan adalah karena hewan mengamuk di rumah potong. Menurut Roostita, biasanya hewan impor lah yang “mengamuk”.

"Sapi dari Australia misalnya, mereka biasa digembala di padang rumput sehingga tidak terbiasa saat dibawa ke ruangan sempit di RPH, maka akhirnya mengamuk", jelasnya.

Tukang jagal yang tidak sabar biasanya melakukan kekerasan pada hewan seperti memotong kaki atau mencolok matanya.

Hal inilah yang menimbulkan diadakannya sebuah konsesus internasional mengenai perlakuan hewan sehingga anestesi diperlukan pada hewan impor.

“Saya pernah bertanya kepada salah seorang pembicara seminar dari Australia. Saya mempertanyakan, bagamaina jika anestesi atau cara lainnya yang dilakukan dapat menyebabkan hewan jadi bangkai. Ia menjawab bahwa 'daging tersebut tidak diperuntukan bagi warga Muslim'...”, cerita Roostita.

Roostita memaparkan bahwa, di beberapa negeri dengan kaum Muslim minoritas, justru aspek halal sangat diperhatikan. Di Asutralia, kehidupan tukang jagal beragama Islam diperhatikan hingga kesehariannya.

“Jangan pikir karena sudah jadi tukang jagal dan diberi sertifikat, terus dia bisa pergi ke bar malamnya. Tindakan seperti itu bisa menjadi alasan untuk menarik kembali sertifikat tukang jagal”, tutur Roostita. (Rp/Risalah)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.