teroris penyerang gereja yang lukai sejumlah balita
Sejumlah netizen melihat fakta yang janggal mengenai bom molotov gereja Samarinda, hari Minggu (13/11) kemarin.

Berikut salah satu kekhawatisan anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Katim, atas nama Rahman Putra,

Analisisnya sederhana dan cukup dilakukan orang awam:

Pelaku bom di gereja Sengkotek:

1. KTP Aceh
2. Baju bertuliskan Jihad
3. Rambut gondrong
4. Pernah dipenjara di Jakarta selama 3.5 tahun
5. Saat ini tinggal di mesjid tanpa nama (serius nih? Seumur hidup baru tau ada masjid tanpa nama)
6. Bom molotov yang di lempar ke motor di depan gereja
7. Rame kasus Ahok
8. Paska demo 4/11 menuju aksi damai 25/11
9. Publikasi langsung muncul hampir di setiap TV nasional.

Ada beberapa pertanyaan?
1. Kenapa muncul saat kasus penistaan agama?
2. Kenapa pas mau ngebom pakai baju yang identik dengan identitas suatu agama.
3. Kenapa ngebom di gereja kecil yang cenderung jamaahnya sedikit.
4. Kenapa tidak di gereja kota yang besar? Yang diparkirannya ada mobil? Jadi ledakkannya besar?

Kalau ini rekayasa, rekayasanya terlalu easy to be guessed.

Endingnya sebenarnya mudah; aksi damai selanjutnya akan sangat ketat seolah-olah Islam itu dicitrakan sebagai agama yang penuh kekerasan dan terorisme.

Oh come on. Think smart guys. Setiap agama mengajarkan cinta, kasih sayang dan kedamaian.

Cuma orang stupid yang gila. Yang mengatakan kalau ada agama yang ngajarin membunuh dan kekerasan.

Apa esensi agama? Kita mesti serius memahami lagi.

Mari saling mengasihi. Bersama dalam kedamaian. Karena Islam itu adalah agama yang penuh rahmat. Begitupun yang lain.

Lihat persoalan akar. Dan dalang gila di belakang layar.

IMMawan Rahman Putra
Ketua KORPS IMM KALTIM


Sementara menurut ahli hukum perang internasional dan Islam, Fajri Muhammadin, apa yang dilakukan oleh pelaku sama sekali tidak menunjukkan kesesuaian dengan "tata cara jihad", meski versi kelompok garis keras sekalipun.

"Dari penelitian saya soal fiqih jihad sementara ini, rasanya tidak ada khilaf soal larangan menyerang tempat ibadah kaum kafir bahkan saat perang. Bahkan Al-Qaeda mengecam ISIS ketika ngebom kuil Syi'ah", tulisnya.

Selain itu, tak ada satupun yang membolehkan menyerang anak-anak. Atau artinya pelaku terang-terangan melanggar 2 larangan yang mutlak diketahui dalam hukum perang Islam.

"Demikian pula rasanya ndak ada khilaf dalam larangan menyerang anak-anak. Terkait hukum hukum ini kelihatannya ndak sulit menafsirkan dalilnya. Simpel, eksplisit", lanjutnya.

Ia pun khawatir jika kasus serangan bom molotov gereja bukan dilakukan oleh orang jahil (ekstremis dan bodoh, red), melainkan ada niat jahat dari orang yang tak bertanggung jawab.

"Feeling saya mengatakan bukan orang jahil fiqih jihad yang melakukan ini, melainkan kesengajaan orang yang berilmu tapi JAHAT", tulis Fajri. (FB/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.