Kelompok Sunni Arab khawatir akan ditangkap dan disiksa karena dituduh telah membantu ISIS

pengungsi dari Mosul sedang memasak di kota Bashiqa, Irak, (18/11/2016). (REUTERS)

Kelompok Arab Sunni terus berjuang mencari tempat tinggal baru di Irak. Pasalnya, mereka bagai disuguhi buah Simalakama.

Abdallah (23), seorang warga Sunni Irak dari etnis Arab, pada 2014 lalu memilih melarikan diri ke dalam Mosul.

Ia merasa hidup sulit di bawah tekanan ISIS lebih masuk akal daripada harus ditahan oleh kelompok Kurdi.

Saat ini, Abdallah dan keluarganya kembali berusaha melarikan diri dari Mosul menuju kampung halamannya di Sheikhan.

Itu terjadi setelah tentara Irak mulai memasuki Mosul, bersama pasukan Kurdi (Peshmerga) dan milisi sektarian Syi'ah.

“Saat pasukan Irak mulai memasuki area (Mosul), kami pergi dari kota itu. Sekarang kami hanya ingin pulang ke rumah”, ujar Abdallah.

Ia dan ratusan warga lainnya menunggu di dekat kota Bashiqa agar segera menyeberangi parit yang sebelumnya digali pasukan Kurdi untuk menandai wilayahnya.

Kota Sheikhan, yang berada di seberang parit, terletak di wilayah otonomi Kurdistan Regional Government (KRG).

Warga Sunni Arab juga khawatir akan ditangkap dan disiksa karena dituduh telah membantu ISIS.

Abdallah, yang menjalani 2 tahun hidup di bawah tekanan ISIS meyakinkan bahwa ia tidak pernah menjadi simpatisan ISIS.

"Saya hidup di Mosul dengan terus menunduk, menumbuhkan jenggot panjang dan bekerja sebagai penjual buah. Saya mencoba menghindari kontak dengan anggota ISIS", katanya.

Akibat kecurigaan Kurdi itu, jalan pulang ke kampung halamannya telah diblokir.

"Peshmerga mencari orang yang terkait ISIS, mereka takut salah satunya bersembunyi diantara kami. Mereka tidak menjelaskan kapan kami diizinkan untuk menyeberang", katanya.

Abdallah dan para pengungsi lain terpaksa menunggu dengan sabar, baik di mobil atau harus beralaskan terpal sebelum bisa memasuki wilayah KRG dan menuju kampung halamannya.

Seorang pekerja sosial bernama David Eubank membantu para pengungsi berkemah dalam beberapa hari dan mengantarkan menuju pemeriksaan keamanan. Menurutnya, ada sekitar 2600 orang menunggu agar dapat menyebrang.

Pasukan Peshmerga yang menjaga perbatasan itu belum mengetahui kapan pengungsi diizinkan memasuki wilayah KRG.

"Kami hanya diberitahu untuk menjaga perbatasan. Dan pada sore hari kami memeriksa orang-orang dan mencatat rincian mereka”, ungkap salah satu penjaga.

Menurut Abdallah, perlakuan buruk terhadap Sunni Arab justru menguntungkan ISIS, dimana banyak warga memihak militan yang dianggap bisa melindungi mereka.

Milisi Syi'ah juga ikut mendapat keuntungan di sisi lain Mosul. Membuat Abdallah makin khawatir tentang masa depan Mosul.

"Kami takut milisi Syi'ah akan datang ke kota, membunuh laki-laki dan memerkosa perempuan", katanya, menyuarakan kekhawatiran Muslim Sunni jadi korban balas dendam.

Milisi Syi'ah yang didukung Irak memang dituduh telah menyiksa warga sipil Sunni di wilayah yang mereka rebut dai ISIS. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.