Shalat Jumat dalam kondisi normal dilaksanakan di dalam bangunan, khususnya masjid. Namun, dalam kondisi tertentu sah dilaksanakan di luar

MUI

Komisi Fatwa MUI menetapkan pelaksanaan shalat Jum'at di jalan sah dilakukan asalkan tidak melanggar ketentuan syariah.

"Shalat Jumat dalam kondisi normal dilaksanakan di dalam bangunan, khususnya masjid. Namun, dalam kondisi tertentu sah dilaksanakan di luar masjid selama berada di area permukiman", kata Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin lewat keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.

Selain itu ia menjelaskan, tempat pelaksanaan ibadah harus suci dari najis, tidak mengganggu kemashlahatan ummat dan kekhusukan ibadah terjamin.

Terkait penggunaan fasilitas umum, pelaksanaan ibadah juga harus menaati aturan hukum yang berlaku.

Kerja sama dengan pihak berwenang harus diupayakan agar pengamanan dan rekayasa lalu lintas bisa dilakukan dengan segera.

Berbeda dengan pernyataan yang keluar dari Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj mengatakan shalat Jum'at di jalan adalah tidak sah menurut Mahzab Syafi’i dan Hambali.

"Salat Jumat di jalan kapan pun di mana pun tidak sah menurut mahzab Syafii. Salat Jumat harus di dalam bangunan yang sudah diniatkan untuk salat Jumat di sebuah desa atau kota", tegas Said Aqil.

Selain tidak sah, Said juga menjelaskan bahwa rencana shalat Jum'at di jalan berpotensi mengganggu ketertiban umum dan kepentingan orang lain.

"Kalau imamnya di masjid makmumnya sampai keluar tidak apa-apa, tapi kalau sengaja dari rumah mau jumatan di tengah jalan, salatnya saja tidak sah, belum lagi mengganggu ketertiban dan kepentingan orang lain", kata Said Aqil di Jakarta, Kamis, di sela-sela Kongres XVII Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Kesimpulan shalat di jalan tidak sah merupakan hasil keputusan NU yang dibahas belum lama ini, katanya. (Antaranews)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment: